"Masya Allah..." sebuah kalimat terucap Budi Hutasuhut setelah mengetahui viralnya video hubungan suami isteri di dalam kelas diduga melibatkan siswi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kepada ANTARA, di Tapanuli Selatan, Sabtu (15/6), Sastrawan Indonesia ini mengatakan adegan intim dipertontonkan sepasang remaja tersebut merupakan imbas degradasi moral dan menjadi cambuk semua pihak.

Hal tersebut bisa terjadi menurut pandangan atau dari kajian budaya, kata dia, sebetulnya bangsa kita belum tuntas memahamkan subtansi nilai-nilai budaya lokal.

Generasi pada kemerdekaan Republik Indonesia mengalami euforia kemerdekaan tanpa sempat memikirkan budaya warisan leluhur yang sebenarnya.

"Merasa bahwa 'merdeka' merupakan bagian dari masyarakat dunia yang bisa menikmati segala hak asasi manusia," sebut Budi juga penulis puisi, cerpen, dan esai sampai sekarang.

Pada saat yang sama, nilai moderen yang ditanamkan kolonial lewat pendidikan formal, tertanam sebagai ideologi moderen yang membuat setiap orang mengidentifikasi diri sebagai orang Eropa.

"Dalam kajian postkolonial masyarakat melakukan mimikri (difotokopy), merasa dirinya bagian dari Eropa (kolonial) sehingga lupa nilai dasar masyarakat tradisional," katanya.

Kondisi mimikri dalam konsep 'Homi Bhaba' membuat orang Indonesia menganggap dirinya merupakan representasi orang Eropa karena Eropa merupakan manusia beradab.

Sampai era teknologi moderen saat ini di mana akses terhadap hal hal di luar negri (Eropa atau Barat) lebih mudah diakses, masyarakat merasa semua hal harus memikri, karena hal itu representasi orang beradab.

"Laku semenleven,  seks bebas,  bukan hal tabu bagi peradaban Eropa," kata Ketrua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (2005-2009).

Bangsa kita,  anak-anak menganggap seks bebas itu hal alamiah. Setiap orang berhak menikmati seks karena bagian dari 'HAM' atau (hak azasi manusia).

Putera kelahiran Sipirok, Tapanuli Selatan 47 tahun silam (1972) ini menyatakan tak cuma di Bulukumba, Budayawan ini juga menyatakan di Padangsidempuan pun banyak terjadi. Terlihat dari  penangkapan pasangan yang menginap di hotel saat puasa Ramadan beberapa waktu lalu adalah bukti.

Satpol Pamong Praja dan Kepolisian Resor setempat menangkap banyak pasangan mesum karena bagi mereka persoalan seks merupakan bagian dari kehidupan moderen.

"Kondisi ini terjadi karena masyarakat tidak mengerti  apalagi memahami nilai nilai budayanya sendiri,  baik budaya lokal maupun nasional," ujarnya seraya menyebut ketidaktahuan pada budaya sendiri membuat masyarakat mencari budaya lain sebagai budaya yang merepresentasikan dirinya.  

Dididik memahami budayanya.  

Pemerintah pusat telah mengeluarkan Undang Undang nomor  7 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang pada tingkat daerah harus direalisasikan dengan membuat atau menyusun nilai budaya yang khas daerah masing masing.

"Sayangnya untuk wilayah Tapanuli Bagian Selatan baru Kota Padangsidempuan yang benar benar serius mengikuti amanat UU kebudayaan meskipun pada tingkat ekspresi belum melakukan apa apa," katanya.  

Penyair ini berharap kasus memalukan dan mencoreng dunia pendidikan Bulukumba menjadi pelajaran berharga dengan mengajak semua pihak agar menanamkan kembali nilai nilai budaya lokal lewat pendidikan maupun lewat kegiatan kegiatan budaya yang bertujuan membangun kepedulian masyarakat.  

Tambah, perbanyak festival kebudayaan, seminar, dan pelatihan bagi para pendidik agar bisa mengajarkan kebudayaan dalam rangka menyelamatkan generasi muda bangsa dari degradasi moral.

Pewarta: Kodir Pohan

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2019