"Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka...." Penggalan lagu ini mungkin hanya menjadi nanyian anak-anak yang tak pernah menaiki delman sesungguhnya. Apalagi, kini sudah sulit menemui delman kecuali di tempat-tempat tertentu.

Pemilik delman, Yudi (62) yang sehari-harinya mangkal di Pasar Minggu Kota Bengkulu mengatakan, saat ini masyarakat sudah jarang menggunakan jasa transportasi yang ditarik dengan kuda itu.

"Warga lebih memilih menggunakan jasa ojek sepeda motor atau angkutan kota karena lebih cepat sampai tujuannya," kata dia.

Menurut Yudi yang telah 10 tahun melakoni pekerjaannya sebagai kusir tersebut, alasan dirinya masih bertahan karena ingin melestarikan alat transportasi itu yang kini bisa dibilang sebagai barang langka.

Dia pun mengaku pendapatannya dari mengoperasikan delman tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam sehari rata-rata Yudi hanya mendapatkan Rp20-30 ribu, berbeda ketika kendaraan sepeda motor belum banyak, dia bisa mendapatkan uang rata-rata di atas 50ribu.

Namun, penghasilan Yudi akan bertambah ketika ada masyarakat yang membutuhkan jasa delmannya untuk mengarak keliling pengantin, dan itu juga sangat jarang didapatkan karena untuk saat ini masyarakat lebih memilih menggunkan mobil. Atau ketika musim liburan tiba, maka penghasilannya akan bertambah.

Biasanya ketika memasuki musim liburan Yudi lebih memilih menawarkan jasa delmannya di sekitar tempat wisata Pantai Panjang, Kota Bengkulu.

Untuk saat ini pengguna jasa delman hanya ibu-ibu yang sebagian besar membawa anak kecil.

"Karena biasanya anak kecil yang meminta kepada ibunya untuk menggunakan jasa delman, anak kecil lebih tertarik ketika melihat kuda yang menarik delman," kata Yudi.

Sekali jalan biasanya pelanggan memberikan Rp3.000-Rp5.000 untuk jarak dekat dan sedang.

Ny Aniwati, warga Kota Bengkulu mengaku sering mengajak anak-anaknya naik delman yang ada guna memberikan realita tentang kehidupan sambil menyanyikan lagunya.

"Kita sering menyanyikan lagu 'naik delman' tetapi tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk menaiki delman sesungguhnya," kata dia.

Karena itu, dari tiga anak yang dimilikinya, dan yang sulung sudah berstatus mahasiswa, semua pernah diajaknya naik kendaraan yang ditarik dengan kuda tersebut.

"Anak-anak saya kenalkan delman ketika masih kecil. Awalnya mereka takut tetapi setelah satu kali naik, akhirnya minta lagi. Sehingga dalam satu bulan itu bisa dua sampai empat kali naik delman," kata dia.

Untungnya, lanjut dia, di Kota Bengkulu masih ada delman meski jumlahnya sudah berkurang dibandingkan ketika ia masih anak-anak.

Begitu pula penarik becak mengalami penurunan pelanggan ketika mudahnya masyarakat mendapatkan sepeda motor.

Ujang (48) seorang penarik becak yang biasa mangkal di Simpang Bajak Kota Bengkulu mengatakan, dengan semakin mudahnya mendapatkan sepeda motor, maka masyarakat akan semakin enggan untuk menggunkan jasa delman atau becak, karena dengan menggunkan motor maka akan lebih efisien dan dan cepat.

Di Simpang Bajak hanya tinggal 2 orang yang masih bertahan menjalani profesi sebagai penarik becak.

Menurut Ujang pada awalnya ada sekitar 30 orang yang berprofesi sama dan mangkal di Simpang Bajak, tetapi tidak bertahan lama dan beralih ke profesi lainnya.

"Menarik becak lebih bersahabat dengan lingkungan, keamanan penumpang lebih terjamin, dan juga bebas polusi," kata Ujang.

Terkait keberadaan tukang ojek yang semakin hari semakin banyak, Ujang tidak ambil pusing dengan keadaan itu.

"Rezeki itu sudah ada yang menentukan, jadi kita hanya berusaha saja semaksimal mungkin", kata dia.

Usman, warga Kota Bengkulu mengatakan di tempat tinggalnya tidak mungkin ada penarik becak karena kondisi tanahnya naik-turun.

Ia pun selain membawa anak-anaknya naik delman juga naik becak dengan tujuan untuk memberikan pengalaman kepada sang buah hati.

"Kalau saya waktu kecil dengan orang tua tinggal di daerah yang datar dan ada pebecak. Tetapi kini setelah menikah dan punya anak, tinggal di daerah dataran tinggi yang tak mungkin ada becak," kata dia.

Karena itu, untuk mengenalkan kepada anak-anaknya akan alat transportasi tersebut, pernah diajaknya untuk menaiki.

"Mumpung delman dan becak belum dilarang, maka manfaatkan untuk menambah pengalaman anak-anak," kata dia. (ant)

Pewarta: Abdurrohman & Triono Subagyo

Editor : Triono Subagyo


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2012