Bengkulu (Antara Bengkulu) - Yayasan Genesis Bengkulu meminta pemerintah mengoptimalkan areal persawahan yang terlantar akibat kerusakan jaringan irigasi dan ketersediaan air.

"Ada 75 hektare areal persawahan di Desa Airbuluh Kecamatan Airrami Kabupaten Mukomuko yang terlantar karena air tidak mengalir ke lahan petani," kata Direktur Yayasan Genesis, Barlian di Bengkulu, Selasa.

Akibatnya lahan itu terlantar dalam beberapa tahun terakhir dan saat ini mulai ditanami sawit oleh petani.

Para petani kata dia, sebenarnya masih ingin mempertahankan areal pertanian tanaman pangan itu, namun karena jaringan irigasi tidak berfungsi dan tidak ada air, maka lahan itu tidak dapat diolah.

"Petani masih menunggu pemerintah memperbaiki saluran irigasi tapi sampai saat ini tidak ada tindakan, akhirnya sebagian lahan mulai ditanam sawit," ujarnya.

Barlian mengatakan penelantaran lahan tersebut kontradiksi dengan jargon pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi padi hingga 1 juta ton pada 2014.

Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga memprogramkan cetak sawah baru hingga lebih 1.000 hektare di beberapa kabupaten dan kota, termasuk Kabupaten Mukomuko.

Seharusnya kata dia, lahan terlantar tersebut kembali difungsikan dengan memperbaiki sarana prasarana penunjang, terutama saluran irigasi.

Genesis Bengkulu kata dia menduga, saluran irigasi tidak diperbaiki sebab air Sungai Airbuluh sudah menyusut dan tidak sampai ke areal persawahan itu akibat pembukaan lahan kebun sawit di hulu dan daerah aliran sungai.

"Perlindungan kawasan hulu dan daerah aliran sungai harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, karena bukan tidak mungkin cetak sawah baru akan sia-sia kalau airnya tidak ada," katanya.

Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu Lukman mengatakan, salah satu kunci peningkatan produksi padi adalah perbaikan saluran irigasi yang banyak rusak di daerah itu.

"Target peningkatan 10 persen produksi padi dari 600 ribu ton akan tergantung pada kondisi irigasi," katanya.

Ia mengatakan, selain meningkatkan produksi padi, perbaikan irigasi juga menekan laju alih fungsi lahan tanaman pangan menjadi komoditas perkebunan.

Pantauan di sejumlah daerah kata dia, kerusakan irigasi membuat petani beralih menanami areal persawahan mereka dengan sawit.

Contohnya kata dia, irigasi Datar Rungau di Kecamatan Air Nipis Kabupaten Bengkulu Selatan yang jebol akibat banjir sudah tidak dapat dimanfaatkan petani sejak 2006.

Namun, petani masih bertahan dengan mengolah lahan persawahan tersebut dengan sawah tadah hujan.

"Tapi hasilnya tidak optimal, karena selama ini petani sudah terbiasa dengan jenis padi sawah, sawah tadah hujan sangat bergantung pada musim," tambahnya.

Jika tidak segera diperbaiki, warga di kecamatan tersebut mengancam akan mengalihfungsikan areal persawahan seluas 997 hektare itu. (ANTARA)



Editor : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026