"Sasaran program di tiga kabupaten dan kota yang pesisirnya rusak parah," kata Kepala Bidang KP3 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu, Sarjono di Bengkulu, Rabu.
Ia mengatakan tiga kabupaten dan kota yang menjadi sasaran program yakni Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Kabupaten Mukomuko.
Program penghijauan tersebut menurutnya merupakan salah satu bentuk mitigasi bencana.
"Laju abrasi pantai barat sangat tinggi, pengikisan daratan dalam beberapa tahun terakhir sangat mengkhawatirkan," tambahnya.
Sementara fungsi hutan pantai atau "green belt" di pesisir sangat besar.
Selain melindungi daratan dari abrasi, juga menjadi salah satu bentuk mitigasi bencana, terutama tsunami yang rawan terjadi di Bengkulu.
Sarjono mengatakan laju abrasi pesisir pantai barat Bengkulu mulai dari Kabupaten Mukomuko hingga Kaur sangat tinggi, sebagian karena alam, dan tidak sedikit karena aktivitas ilegal manusia.
Saat ini, menurutnya, tengah dilakukan survei lokasi sasaran program yang akan dihijaukan dengan tanaman pesisir seperti cemara laut dan ketapang, hingga bakau atau mangrove.
"Kerusakan pesisir karena selain tingginya gelombang laut, juga akibat aktivitas manusia, seperti galian C di sempadan laut dan pembukaan kebun hingga ke bibir pantai," katanya.
Ia mengatakan dampak abrasi menurutnya akan mempersempit daratan Pulau Sumatra sehingga tidak dapat dipandang sebelah mata.
Bukti nyata kata dia, di wilayah Bengkulu Utara dan Mukomuko yang menggerus badan jalan lintas Sumatra.
"Bahkan mengancam permukiman warga yang ada di pesisir dan fasilitas publik seperti jaringan listrik juga terancam ambruk," katanya.
Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk melestarikan kawasan pesisir, sama pentingnya dengan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya melindungi kawasan hutan.
Apalagi wilayah Bengkulu termasuk daerah rawan bencana gempa dan tsunami sehingga hutan pesisir atau "green belt" sangat penting dipertahankan. (Antara)
Editor : Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.