"Selain harga yang terus naik, penjualan dari distributor juga terkesan mengetat dengan alasan pasokan terganggu dampak kenaikan harga impor," kata perajin tempe di Medan, Budisudarno, di Medan, Rabu.
Senin lalu, harga kedelai masih sebesar Rp8.800 per kg dari usai Lebaran yang masih bisa dibeli seharga Rp7.350 per kg.
Distributor tetap mengaku kenaikan harga kedelai merupakan dampak naiknya harga impor menyusul menguatnya dolar AS, katanya.
Seperti kasus-kasus terdahulu dimana harga kedelai juga sempat naik tajam, menurut dia, perajin tempe di Medan tidak bisa berbuat banyak.
Perajin semakin pasrah karena nyatanya Pemerintah juga belum bisa menerapkan harga pembelian pemerintah (HPP) seperti yang direncanakan untuk kedelai seharga Rp7.450 per kg.
Dia mengaku, meski harga bahan baku naik, tetapi harga jual tempe ke pedagang masih tetap alias tidak dinaikkan.
"Agar tidak merugi, ukuran yang diperkecil atau ditipiskan,"katanya.
Padahal, Pemerintah pernah berjanji akan menetapkan HPP kedelai dengan harga di kisaran Rp7.450 per kg.
Dengan terus naiknya harga kedelai, maka perajin tempe semakin memastikan harga kedelai itu tidak lagi bisa kembali ke harga normal seperti di tahun 2011 yang di kisaran Rp5.500-Rp6.500 per kg dan 2012 paling tinggi Rp7.000 per kg.
Humas Bulog Sumut, Rudi, menyebutkan, hingga pekan ini belum ada petunjuk mengenai penanganan harga kedelai karena Bulog sendiri memang belum berfungsi secara nyata dalam menangani kedelai dan daging seperti yang direncanakan.
Namun diakui Rudi, Pemerintah Provinsi Sumut sebelumnya sudah membicarakan masalah HPP kedelai untuk daerah itu. (Antara)
Pewarta: Oleh Evalisa SiregarEditor : Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026