Bengkulu,  (Antara) - Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu mencatat pada Juli 2013, daerah itu hanya mengekspor satu komoditas yaitu hasil tambang berupa batubara dengan nilai 9,33 juta dolar AS.

"Ekspor pada Juli 2013, ekspor melalui Pelabuhan Pulai Bai, hanya satu komoditas yaitu hasil tambang batubara," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu Nurul Hasanudin di Bengkulu, Senin.

Ia mengatakan BPS memperoleh data ekspor provinsi itu dari Kantor Bea dan Cukai di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.

Menurut Nurul, nilai ekspor batubara Bengkulu pada Juli 2013 turun 27,79 persen dibandingkan ekspor pada Juni 2013 yang tercatat sebesar 12,92 juta dolar AS.

"Kemungkinan besar ada ekspor komoditas lain, tapi tidak melalui Pelabuhan Pulau Baai, seperti minyak mentah sawit atau CPO, kopi dan lainnya," ujarnya.

Ia mengatakan tujuan ekspor batubara Bengkulu terbesar ke negara India yaitu senilai 4,20 juta dolar AS, diikuti Malaysia sebesar 1,69 juta dolar AS, Jepang 1,44 juta dolar AS, Philipina sebesar 0,67 juta dolar AS. Selanjutnya Kamboja senilai 0,68 juta dolar AS dan Vietnam sebesar 0,64 juta dolar AS.

Nurul Hasanudin menambahkan nilai ekspor Provinsi Bengkulu pada Januari hingga Juli 2013 mencapai 95,98 juta dolar AS atau turun sebesar 37,98 persen bila dibandingkan dengan ekspor Januari hingga Juli 2012 yang tercatat sebesar 154,76 juta dolar AS.

Sedangkan nilai impor Provinsi Bengkulu melalui Pelabuhan Pulau Baai pada Juli 2013 mencapai 3,41 juta dolar AS, berupa komoditas aspal, solar dan semen.

Manajer perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Sandabi Indah Lestari, Hendro mengatakan minyak sawit mentah atau CPO yang diproduksi pihaknya didistribusikan untuk kebutuhan domestik.

"Kami mengirim lewat Pelabuhan Pulau Baai tapi tidak untuk ekspor, hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik," katanya.

Sementara Kepala Bidang Pemasaran PTPN VII Seluma, Bengkulu, Posma Pasaribu mengatakan terdapat komoditas ekspor dari perusahaan milik negara itu seperti karet, namun diekspor melalui Lampung.

"Kami mengekspor karet mencapai 4.000 ton per bulan yang dikirim ke Lampung melalui darat, lalu diekspor dari Lampung ke berbagai negara tujuan," katanya.*

Pewarta: Pewarta Helti Marini Sipayung
Editor : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026