Pamekasan (Antara) - Panitia Festival Sapi Sonok se-Madura yang digelar di Stadion Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu, mengusir seorang gadis "putri sapi" penari pengiring pasangan hewan ternak yang ditampilkannya karena memakai celana pendek.

Pakaian gadis "putri sapi" selaku penari pengiring seni sapi sonok yang ditampilkan itu terlalu minim, di antaranya hanya mengenakan celana pendek, kata Ketua Paguyuban Sapi Sonok Haji Zainuddin.

Hal itu, katanya, dinilai melanggar syariat Islam dan kesepakatan panitia dengan para pemilik sapi sonok sebelum festival  digelar oleh Bakorwil IV tersebut, yakni semua pihak menjaga kesopanan/kepantasan.

"Penari yang menggunakan celana pendek itu jangan masuk lapangan tempat festival sapi sonok lagi. Itu tidak pantas, melanggar kesopanan/kepantasan," kata Zainuddin dengan nada tinggi.

Pria yang juga ketua dewan juri festival sapi sonok itu menyatakan, dalam kegiatan tersebut panitia memang memperbolehkan adanya penari perempuan, bahkan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan  setiap tahun.

Akan tetapi, penampilan penari yang ada pada festival masih dalam keadaan pantas, tidak memakai pakaian yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan adat-istiadat yang berlaku di Madura.

Festival itu diikuti 39 pasangan sapi dari tiga kabupaten di Pulau Madura, yakni Sumenep, Pamekasan dan Sampang. "Memang hanya di tiga kabupaten itu yang memiliki tradisi seni sapi sonok," kata Zainuddin yang juga ketua panitia festival.

Sapi sonok merupakan salah satu kekayaan khazanah budaya tradisional asli Pulau Madura yang bernuansa seni.

Jenis kesenian tradisional asal Pamekasan itu, lebih disukai masyarakat di Pulau Garam tersebut dibandingkan karapan sapi. Hal itu disebabkan karapan sapi sudah diwarnai dengan kekerasan menggunakan kayu pemukul yang dipasang paku.

"Padahal dulu karapan sapi tanpa kekerasan. Sebagaimana karapan sapi, kesenian tradisional sapi sonok bermula dari kegemaran masyarakat Madura dalam beternak sapi," ujar Zainuddin.

Pola penilaian dalam festival sapi sonok juga berbeda dengan karapan sapi. Jika karapan sapi dinilai pada kecepatannya, sapi sonok mengutamakan keindahan gaya dan kekompakan gerak jalan kaki sapi menuju garis finis.

Musik saronen disertai kidung pesinden menjadi pengiring dalam ajang festival sapi sonok itu.

Ada tiga hal yang menjadi poin penilaian, yakni keindahan pakaian pasangan sapi, keseraian langkah dan kondisi hewan itu senidiri.

Dalam festival sapi sonok, tidak ada kategori pemenang, karena fokus utama adalah pada seni dan pelestarian budaya tradisional Madura.

Festival sapi sonok biasanya merupakan satu rangkaian dengan karapan sapi dan pementasan seni budaya dalam acara "Semalam di Madura".

Akan tetapi tahun ini kegiatan karapan sapi dibekukan oleh pemerintah karena para pemilik sapi bersikeras menggunakan pola kekerasan dan penyiksaan dalam memacu laju hewan ternak tersebut.


: Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026