"Kami belum akan menjual hasil panen dalam jumlah banyak karena belum sesuai dengan harga pada tingkat pedagang pengumpul saat ini," kata Joh Hardin di Bengkulu, Sabtu.
Produksi setiap hari sebagian besar disimpan pada pull khusus dekat rumah, bila ada keperluan rumah tangga baru dijual secukupnya, sedangkan sisanya menunggu harga tinggi.
Ia memperkirakan stok karet miliknya setiap bulan rata-rata di atas lima ton, hasil panen itu biasanya ditambah bila ada rekan mau menjual dengan harga lokal.
Harga karet di Bengkulu hingga saat ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan harga di provinsi tetangga seperti di Lubuk Linggau, Sumsel dan beberapa daerah wilayah Jambi.
Padahal mutunya tidak kalah bersaing bahkan mutu karet Bengkulu sebagian besar getah murni dan tidak ada campuran lain karena petani karet Bengkulu pada umumnya murni menjual getah buka tatal karetnya.
Sementara pasokan karet petani saat ini belum stabil akibat tingginya curah hujan akhir-akhir ini, kata Jasarudin seorang pedagang pengumpul karet slab di Kota Bengkulu.
Bila cuaca mendukung produksi karet asalan dari petani akan lancar, namun akhir-akhir ini perkembangan cuaca kurang mendukung, sehingga membuat produksi petani turun.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu Riky Gunarwan menjelaskan, luas tanaman karet di Bengkulu tercatat 118.616 Ha, dengan produksi sekitar 80.339 ton per tahun dan melibatkan 60.173 kepala keluarga (KK) petani.
Harga komoditas karet untuk jenis slab basah kualitas sedang saat ini Rp14.000, sedangkan kualitas baik Rp16.000 dibanding sebelumnya Rp17.500 perkilogram, katanya. (ANT)
Editor : Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.