Acara ini tidak hanya dihadiri oleh perwakilan Kementerian Agama, tetapi juga melibatkan berbagai unsur strategis nasional seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Selain itu juga dihadiri oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), observatorium-observatorium ternama seperti Bosscha dan Planetarium Jakarta, hingga para pemimpin ormas Islam dan pesantren besar di Indonesia.
Sebaran titik pengamatan hilal mencakup berbagai wilayah strategis dan lokasi yang memiliki potensi visibilitas hilal yang baik. Beberapa lokasi itu observatorium di Lhoknga Aceh, pantai-pantai di Sumatra, rooftop gedung pemerintahan dan perguruan tinggi di Jawa, hingga lokasi-lokasi terpencil di Maluku, Papua, dan Kalimantan.
Langkah serentak ini bentuk pentingnya kolaborasi nasional dalam menjaga keakuratan penetapan waktu ibadah umat Islam. Dengan melibatkan ahli falak, astronom, lembaga riset, dan tokoh-tokoh keagamaan, Kemenag berupaya menghadirkan keputusan yang ilmiah sekaligus syar’i.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kemenag juga aktif mendorong pemanfaatan teknologi dan kajian ilmiah dalam proses rukyatulhilal. Upaya ini bertujuan agar setiap keputusan sidang isbat didasarkan pada landasan ilmiah yang kuat sekaligus sesuai dengan syariat Islam.
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026