Jakarta (ANTARA) - Di balik kelezatan rasa manis yang menggoda dari segelas kental manis, tersembunyi persoalan kesehatan yang sudah lama luput dari perhatian serius.

Kental manis bukan hanya tentang gula dan susu, tetapi tentang persepsi, promosi, dan pola konsumsi yang keliru.

Di banyak rumah tangga Indonesia, terutama pada keluarga dengan akses terbatas terhadap literasi gizi, kental manis masih dipercaya sebagai susu yang layak dikonsumsi balita.

Kenyataan ini menjadi pangkal dari kekeliruan yang berpotensi membawa dampak kesehatan jangka panjang bagi generasi masa depan.

Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS) baru-baru ini mengadakan pertemuan dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) DKI Jakarta, untuk menyampaikan hasil temuan mereka terkait salah kaprah konsumsi kental manis.

Salah satu temuan yang paling mencemaskan adalah tingginya frekuensi konsumsi kental manis pada anak-anak, bahkan balita, sebagai pengganti susu.

Dalam banyak kasus, anak-anak mengonsumsinya lebih dari dua kali sehari. KOPMAS menekankan bahwa konsumsi semacam ini tidak hanya tidak sesuai dengan rekomendasi gizi, tetapi juga membahayakan.
 



Pewarta: Hanni Sofia
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026