Kota Bengkulu (ANTARA) - “Setelah sekian lama, aku bahkan tidak benar-benar mengingat suaraku... Saat pertama kali mendengarnya lagi, aku merasa ingin menangis. Rasanya seperti sebuah mukjizat," kata Sarah Ezekiel.

Pernyataan itu keluar dari seorang ibu yang selama 25 tahun hanya bisa berbicara lewat suara robotik tanpa emosi. Penyakit motor neuron (MND) yang diidapnya sejak usia 34 tahun telah merenggut suara dan fungsi tangannya, hanya beberapa bulan setelah melahirkan anak keduanya.

Sejak kecil, kedua anaknya, Aviva dan Eric, tumbuh dengan suara mesin sebagai “suara ibu” mereka. Namun, berkat kecerdasan buatan (AI), sebuah keajaiban datang. Dari delapan detik rekaman audio buram dalam kaset VHS lama, suara asli Sarah berhasil dihidupkan kembali.

Kini, melalui teknologi eye-gaze—kamera yang melacak gerakan mata untuk menyusun huruf di layar—Sarah bisa berbicara lagi dengan suaranya sendiri.

Perburuan Suara yang Hilang

Segalanya bermula ketika Smartbox, perusahaan teknologi bantu di Bristol, meminta Sarah mengumpulkan rekaman suara berdurasi satu jam untuk keperluan rekonstruksi. Tantangan muncul: Sarah telah kehilangan suaranya sejak tahun 2000, jauh sebelum ponsel pintar dan media sosial lazim merekam keseharian.

Harapan sempat redup, hingga ditemukan kaset VHS tahun 1990-an berisi rekaman Aviva saat bayi. Gambar bergoyang, suara terdistorsi, bercampur dengan bising televisi. Namun, di balik kerusakan itu, terdengar delapan detik suara Sarah, rapuh tapi masih ada.

Dari potongan suara itulah, AI bekerja. Simon Poole dari Smartbox awalnya pesimis, tetapi teknologi isolasi suara dari ElevenLabs sanggup memisahkan suara Sarah dari kebisingan. Proses lanjutan memberi intonasi dan kehangatan, hingga tercipta suara yang mirip dengan aslinya.

Saat pertama kali mendengar hasilnya, Sarah hampir menangis. Bahkan seorang teman lama yang mengenal suaranya dulu mengaku terkejut dengan kemiripan itu.

Kembali menjadi “Dirinya Sendiri”
Bagi Aviva dan Eric, suara itu lebih dari sekadar bunyi.

“Luar biasa. Sampai sekarang aku masih mencoba menerima kenyataan ini. Mendengarnya dalam kehidupan sehari-hari tetap membuatku terkejut,” kata Aviva.

Eric menambahkan, suara baru itu membuat keluarga semakin dekat. “Sekarang ibu bisa menunjukkan emosi—senang, sedih, bahkan marah. Kami bisa merasakan siapa dia sebenarnya.”

Sarah pun merasa menemukan kembali jati dirinya. “Aku senang mendapatkan suaraku kembali. Rasanya lebih baik daripada menjadi robot,” ujarnya sambil tersenyum.



Pewarta: Lira Melani
Editor : Anom Prihantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026