Urbanisasi dan migrasi tenaga kerja mempercepat proses ini. Jika tidak diatasi, akan muncul ancaman kekosongan tenaga kerja pertanian di masa depan.

Oleh sebab itu, pertanian harus diposisikan sebagai bidang yang modern, menarik, dan menjanjikan.

Literasi teknologi, akses terhadap pasar global, serta integrasi dengan sektor pariwisata atau industri kreatif bisa menjadi cara baru untuk meningkatkan daya tarik dunia pertanian bagi generasi muda.

Tentu, tidak ada transformasi yang instan. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang kuat selalu berakar pada sistem pangannya. Jepang pasca-perang membangun kembali identitasnya melalui revitalisasi pertanian keluarga.

Korea Selatan mempercepat industrialisasi dengan memastikan desa tidak tertinggal melalui program Saemaul Undong. Indonesia pun memiliki kesempatan untuk menapaki jalur serupa, dengan menempatkan petani, bukan sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai subjek yang aktif dalam merancang masa depan.

Dalam kerangka penelitian, Hari Tani dapat dimaknai sebagai ruang untuk merumuskan kembali kontrak sosial antara negara, masyarakat, dan sektor pertanian.

Negara berkewajiban menyediakan regulasi yang adil dan infrastruktur yang memadai. Masyarakat, terutama kalangan urban, perlu membangun kesadaran bahwa setiap makanan yang hadir di meja adalah hasil kerja panjang petani.

Dunia akademik dan riset bertugas menghadirkan solusi inovatif yang aplikatif di lapangan. Sinergi ketiganya akan membentuk ekosistem pangan yang berkelanjutan, adil, dan inklusif.

Hari Tani sebaiknya tidak berhenti pada ucapan selamat, melainkan menjadi momentum untuk menyalakan kembali kesadaran bersama bahwa pertanian adalah fondasi bangsa.

Setiap butir padi, setiap tetes keringat di sawah, adalah bagian dari narasi besar tentang ketahanan nasional. Selama cangkul masih menoreh tanah, selama benih masih ditanam, harapan itu tidak akan padam.

Menanam bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa masa depan bangsa ini akan tetap kokoh selama petani dijaga dan diberdayakan.

Makna Hari Tani adalah panggilan untuk melihat ke masa lalu, membaca tantangan hari ini, dan merancang masa depan. Pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan jantung peradaban.

Jika pertanian runtuh, bangsa akan kehilangan arah. Tetapi jika dirawat, negeri ini akan selalu punya alasan untuk percaya pada hari esok.


*)  Dr Destika Cahyana, SP, MSc adalah peneliti ilmu tanah dan penginderaan jauh di Pusat Riset Tanaman Pangan, BRIN



Pewarta: Dr Destika Cahyana, SP, MSc*)
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026