Jakarta (ANTARA) - Hari Tani sering hadir sebagai momen simbolik, namun di baliknya tersimpan refleksi panjang tentang masa depan bangsa. Pertanian tidak semata soal memproduksi bahan pangan, melainkan tentang keberlangsungan peradaban.

Clifford Geertz pernah menyinggung bahwa bertani adalah cara hidup, bukan sekadar pekerjaan. Pandangan ini menemukan relevansinya hingga hari ini, ketika sistem pangan global menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan ketidakpastian pasar.

Dalam konteks inilah Hari Tani perlu dibaca, bukan sebagai seremoni, melainkan sebagai momentum reflektif, sekaligus proyeksi arah pembangunan ke depan.

Jika ditarik ke akar sejarah, bertani sejak awal merupakan aktivitas kelompok yang membentuk struktur sosial. Masyarakat agraris di tanah air mengenal gotong royong, sistem irigasi tradisional, serta kelembagaan desa yang menopang kemandirian pangan.

Subak di Bali atau lumbung padi di Jawa Barat menunjukkan bahwa praktik pertanian tidak pernah berdiri sendiri, tetapi terkait erat dengan nilai-nilai kebudayaan.

Namun transformasi sosial ekonomi membuat pertanian kehilangan sebagian dari makna aslinya. Ia direduksi menjadi sektor produksi yang diukur lewat angka hasil panen dan kontribusi terhadap PDB, sementara dimensi ekologis dan kulturalnya kerap terabaikan.

Situasi kontemporer memperlihatkan paradoks yang tidak kecil. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan kehilangan hasil panen padi berkisar 10–12 persen setiap musim. Angka ini menandakan ada satu ton gabah hilang dari setiap sepuluh ton yang dipanen.

Sementara itu, laporan FAO menegaskan bahwa degradasi tanah mengancam hampir sepertiga lahan produktif di Indonesia akibat praktik budi daya yang intensif dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Infrastruktur irigasi pun menghadapi kerusakan serius, ketika lebih dari separuh jaringan memerlukan rehabilitasi. Dalam kondisi demikian, kesejahteraan petani kerap berada di ujung tanduk, terutama ketika harga komoditas tidak stabil dan rantai distribusi menekan keuntungan di tingkat produsen.

Namun, mengaitkan Hari Tani dengan problem struktural semata berisiko menjebak narasi ke arah pesimisme. Perspektif penelitian justru mengajarkan bahwa setiap tantangan mengandung peluang inovasi.

Kemajuan bioteknologi, misalnya, menghadirkan potensi pemuliaan varietas unggul yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Teknologi digital membuka jalan bagi sistem pertanian presisi, di mana penggunaan air dan pupuk dapat diatur lebih efisien dengan sensor dan kecerdasan buatan.

Model pasar daring memungkinkan petani menjangkau konsumen, tanpa perantara panjang. Lebih jauh lagi, penguatan kelembagaan koperasi tani dapat menjadi instrumen strategis untuk menegosiasikan harga, mengakses modal, sekaligus memperkuat posisi tawar di pasar.

Kebijakan publik memiliki peran vital dalam menciptakan ekosistem pertanian yang sehat. Reforma agraria yang konsisten, rehabilitasi irigasi, insentif untuk pertanian berkelanjutan, serta proteksi terhadap benih lokal menjadi agenda penting.

Benih, khususnya, adalah kunci kedaulatan pangan. Jika akses terhadap benih terus dimonopoli oleh segelintir korporasi global, petani akan kehilangan kendali atas basis paling fundamental dari usaha taninya.

Di sisi lain, pendidikan dan riset harus diarahkan untuk menjembatani ilmu pengetahuan modern dengan kearifan lokal. Subak atau Leuit bukan sekadar artefak masa lalu, tetapi referensi bagi inovasi kontemporer yang ramah lingkungan, sekaligus berakar pada budaya.


Fondasi bangsa

Hari Tani juga mengandung dimensi sosial yang lebih luas. Di desa-desa, generasi muda sering enggan melanjutkan usaha tani karena dianggap tidak prospektif.
 



Pewarta: Dr Destika Cahyana, SP, MSc*)
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026