Kota Bengkulu (ANTARA) - Untuk pertama kalinya dalam hampir enam dekade, seorang kepala negara Suriah kembali berbicara di mimbar Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Presiden sementara Suriah, Ahmed Al Sharaa, memanfaatkan momen bersejarah ini untuk menyerukan pencabutan sanksi internasional yang selama ini membatasi negaranya, serta menegaskan komitmen Suriah terhadap reformasi dan diplomasi global.

“Suriah sedang merebut kembali tempatnya yang selayaknya di dunia. Selama bertahun-tahun kami hidup dalam penindasan dan kekurangan. Tapi kami bangkit untuk menuntut martabat,” ujar Sharaa di hadapan para pemimpin dunia, Rabu pekan ini waktu New York, Amerika Serikat.

Pidato ini disaksikan langsung oleh warga Suriah di tanah air, dengan layar-layar besar menyiarkan momen bersejarah itu di berbagai kota.

Sejak menjabat pada Januari lalu, Sharaa telah melakukan upaya diplomasi aktif, termasuk pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Donald Trump di Riyadh, Arab Saudi.

Baca juga: Aksi menentang genosida Israel warnai festival film di Spanyol
Baca juga: Macron: Pembebasan sandera di Gaza bukan prioritas Netanyahu

Ia menegaskan bahwa reformasi internal Suriah hanya akan efektif jika sanksi internasional dicabut, termasuk yang masih berlaku di bawah Undang-Undang Caesar.

Selain isu sanksi, lapor Aljazeera, Sharaa juga menyuarakan kritik keras terhadap serangan Israel di wilayah Suriah dan menegaskan dukungan negaranya untuk rakyat Palestina di Gaza.

“Kami berdiri bersama Gaza, anak-anak dan perempuan mereka, serta semua yang menghadapi agresi. Kami menyerukan agar perang segera dihentikan,” katanya, yang langsung mendapat sambutan hangat dari delegasi negara Arab dan sekutunya.

Pidato ini menandai simbol kebangkitan Suriah di panggung internasional setelah konflik panjang dan isolasi diplomatik. Ibrahim Olabi, duta besar Suriah untuk PBB, menyebut momen ini sebagai titik balik bagi negaranya.

Baca juga: DPR minta pemerintah bertindak soal solusi dua negara demi Palestina
Baca juga: Polisi Malaysia bantah tudingan sebagai negara pusat operasi Hamas

“Duduk di balik plakat Suriah dengan warga bersorak di jalan-jalan New York sungguh luar biasa. Ini simbol bahwa Suriah kembali ke dunia,” katanya.

Meski begitu, tantangan masih besar. Pemerintah Suriah harus membuktikan komitmen terhadap demokrasi, stabilitas, rekonsiliasi nasional, dan menjaga harapan baru bagi rakyatnya. Pidato Al Sharaa di PBB bukan hanya seruan politik, tetapi juga pesan kuat bahwa Suriah ingin bangkit dari reruntuhan konflik menuju masa depan yang lebih damai dan dihormati dunia internasional.

Baca juga: Perbanyak warga Yahudi, cara Israel menghapus demografi warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat
Baca juga: Brutal! Di sela sidang PBB, Israel bunuh 36 warga Palestina


 

Presiden sementara Suriah umumkan peta jalan legislatif dan politik

 



Pewarta: Mifta Bunga Anggraini
Editor : Anom Prihantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026