Namun, beberapa negara sudah mulai memperkuat upaya mereka, termasuk dengan meningkatkan diagnosis dini, memperluas cakupan terapi antiretroviral (ARV), dan memperkenalkan profilaksis pra-paparan (PrEP) jangka panjang, yang hanya membutuhkan dua suntikan per tahun. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi laju penularan HIV dan mencegah infeksi baru secara signifikan.
"Kami membutuhkan pendekatan strategis dan bertarget untuk pencegahan, pengujian, dan perawatan yang disesuaikan dengan wabah spesifik dan populasi yang terkena dampak," kata Saia Ma’u Piukala.
Direktur Regional UNAIDS untuk Asia-Pasifik Eamonn Murphy juga menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dan kemauan politik dalam menangani epidemi ini. "Investasi yang kami lakukan dalam layanan HIV untuk populasi yang paling terpinggirkan pada akhirnya akan memastikan kesehatan masyarakat yang lebih luas," ujar Murphy.
Sementara itu, WHO juga menyoroti keberhasilan beberapa negara seperti Australia, Kamboja, Malaysia, Selandia Baru, dan Vietnam, yang berhasil menekan angka penularan HIV melalui kombinasi strategi pencegahan berbasis bukti ilmiah dan akses universal terhadap pengobatan ARV.
Dialog di Fiji ini menghasilkan seruan untuk bertindak melalui enam prioritas utama:
-
Menjaga HIV tetap menjadi agenda kesehatan nasional dengan dukungan politik yang kuat.
-
Memperluas program pengurangan bahaya bagi pengguna narkoba suntik dan mempercepat diagnosis serta pengobatan dini.
-
Mengintegrasikan layanan HIV ke dalam sistem kesehatan primer di bawah cakupan kesehatan universal (UHC).
-
Menghapus stigma dan diskriminasi, yang menjadi hambatan besar terhadap akses layanan.
-
Meningkatkan pendanaan untuk program berbasis masyarakat agar dapat menjangkau populasi kunci dengan lebih efektif.
-
Memperluas peluncuran profilaksis pra-paparan (PrEP) jangka panjang dan memperkuat edukasi tentang "pengobatan sebagai pencegahan."
WHO juga melaporkan bahwa setiap tiga menit, satu orang di kawasan Pasifik Barat tertular HIV. Pada tahun 2024, tercatat 164.000 infeksi baru, dengan penurunan kasus baru hanya mencapai 11 persen sejak 2010, jauh lebih lambat dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 40 persen.
Pola epidemi di kawasan ini bervariasi, namun penularan seksual di antara populasi kunci seperti pria yang berhubungan seks dengan pria, pengguna narkoba suntik, pekerja seks, orang-orang di penjara, dan komunitas transgender tetap menjadi pola umum.
WHO memperingatkan bahwa target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030 kini berada dalam risiko, khususnya di negara-negara Pasifik Barat yang masih tertinggal dalam pencegahan dan deteksi dini.
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026