Ia menegaskan, dirinya mungkin mampu menerima risiko jika ancaman ditujukan kepadanya secara pribadi, namun ia merasa sangat berat ketika orang lain ikut menjadi sasaran hanya karena berdiri di sampingnya.
Pengakuan ini sekaligus memperlihatkan sisi lain dari perjuangan penyintas: bahwa bersuara bukan hanya soal keberanian, tetapi juga tentang keselamatan diri dan orang-orang di sekitar.
Di tengah proses penyembuhan dan perjuangannya, Aurelie mendapat dukungan penuh dari sang suami, Tyler Bigenho.
Melalui unggahan di media sosial, Tyler menyampaikan pesan menyentuh tentang komitmen dan perlindungan terhadap pasangan hidup.
Ia menekankan pentingnya dedikasi seorang pria untuk melindungi perempuan yang dicintainya, berkomitmen sepenuhnya, dan berdiri bersama dalam segala keadaan. Dukungan ini menjadi salah satu pilar penting bagi Aurelie dalam menghadapi masa lalu dan berani membuka cerita yang selama bertahun-tahun ia pendam.
Baca juga: Viral "catcalling", Polda Metro Jaya periksa anggota Brimob yang diduga lakukan pelecehan
Baca juga: Pelecehan seksual di kereta api masih terjadi, KAI edukasi penumpang
Kehadiran pasangan yang suportif disebut Aurelie sebagai bagian dari proses pemulihan dan keberanian untuk berbagi kisahnya kepada publik.
Melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans berharap para pembaca, terutama mereka yang pernah mengalami pengalaman serupa, tidak merasa sendirian. Ia ingin buku ini menjadi pengingat bahwa setiap orang berhak merasa aman untuk bersuara, serta bahwa perubahan sekecil apa pun adalah tanda bahwa masyarakat sedang bergerak ke arah yang lebih benar.
“Kalau hari ini kamu merasa sedikit lebih aman untuk bersuara, berarti kita sedang berjalan ke arah yang benar,” tutupnya.
Polresta Bogor Kota ringkus pelaku pelecehan seksual terhadap 10 anak
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026