Ia menilai, saat pertama kali ia mencoba bersuara ketika masih sangat muda, respons publik cenderung menyepelekan korban, bahkan kerap menyalahkan mereka. Banyak suara korban yang tenggelam, disangkal, atau dipelintir, sementara isu-isu penting justru luput dari perhatian.
Namun kini, Aurelie melihat adanya pergeseran yang nyata. Menurutnya, masyarakat semakin memiliki kesadaran tentang grooming, lebih memahami relasi kuasa, serta menunjukkan empati yang lebih besar dibandingkan sikap menghakimi.
“Perubahan ini penting. Dan nyata,” tulisnya.
Sembari menambahkan bahwa meski perjalanan menuju ruang aman bagi korban masih panjang dan tidak instan, ia bersyukur bisa hidup di masa ketika cerita-cerita seperti ini mulai didengar dengan lebih utuh.
Aurelie juga menyinggung alasan mengapa dirinya kini lebih berhati-hati dalam merespons atau membagikan ulang dukungan di media sosial.
Baca juga: Tiga karyawan Transjakarta korban pelecehan seksual laporkan atasan ke polisi
Baca juga: Seorang perempuan alami kekerasan dan pelecehan saat shalat di masjid Bandar Lampung
Ia mengungkap pengalaman ketika pernah me-repost unggahan dukungan untuk seorang rekan, yang justru berujung pada ancaman berkelanjutan terhadap orang tersebut, baik melalui pesan langsung hingga WhatsApp.
Meski ancaman itu tidak sampai berkembang menjadi perundungan terbuka, Aurelie mengakui tekanan psikologisnya tetap terasa.
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026