Jakarta (ANTARA) - Warga menggambar ulang jalur penyeberangan (zebra cross) di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, setelah laporan hilangnya fasilitas tersebut tidak mendapat respons pada aplikasi JAKI selama lebih dari satu tahun.
"Warga sudah lapor lewat JAKI dan ke kecamatan sejak setahun lalu, tapi didiamkan. Giliran warga bertindak dan viral, baru bicara soal aturan. Jangan 'sadar diri' karena viral saja," kata relawan Rafli Zulkarnaen atau Ijoel saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Dia mengatakan awalnya, di kawasan dekat GPIB Bukit Moria Tebet itu tengah dilakukan pengaspalan sebagai upaya perbaikan jalan pada 2025.
Setelah pengaspalan itu rampung, diharapkan zebra cross akan dibuat kembali sebagai marka jalan, terlebih mengingat lokasi itu dekat dengan halte Transjakarta, gereja, sekolah serta kantor Kecamatan Tebet.
Akan tetapi, marka jalan itu tidak kunjung dibuat, sehingga warga menyampaikan keluhan mereka melalui berbagai jalur resmi, termasuk JAKI, sejak 2025, namun tidak ada respons maupun tindak lanjut sama sekali.
"Pengaspalan cuma di sisi depan gereja saja, dan setelah itu, marka jalan atau zebra cross-nya hilang sama sekali, nggak dipasang lagi sampai setahun lebih," ujar Ijoel.
Dia menilai ketiadaan zebra cross itu menimbulkan pertanyaan terkait kelanjutan penataan fasilitas jalan setelah perbaikan fisik selesai dilakukan.
Menurut dia, keberadaan zebra cross itu merupakan bagian penting dari keselamatan pengguna jalan, khususnya pejalan kaki di kawasan yang memiliki aktivitas tinggi.
Ijoel memandang perbaikan infrastruktur jalan seharusnya diikuti dengan pemulihan fasilitas pendukung secara menyeluruh agar fungsi jalan tetap optimal dan aman bagi seluruh penggunanya.
"Kami sebagai warga nggak mau tahu itu urusan dinas mana, yang penting fasilitas yang kami butuhkan ada dan aman. Apalagi di situ blind spot pas belokan, bahaya banget kalau nggak ada penanda untuk pejalan kaki," ucap Ijoel.
Lebih lanjut, dia mengatakan lambannya respons terhadap laporan warga juga menunjukkan perlunya perbaikan dalam sistem penanganan aduan masyarakat, khususnya terkait fasilitas keselamatan jalan.
Oleh sebab itu, dia menggandeng pembuat konten (konten kreator) yang juga merupakan seniman untuk menggambar ulang zebra cross dengan karakter gim "Pac-Man". Aksi tersebut kemudian dibagikan melalui media sosial Instagram @ijoeel.
Sementara itu, Dinas Bina Marga DKI Jakarta mengapresiasi kepedulian dan inisiatif masyarakat yang telah melakukan pengecatan jalan yang difungsikan sebagai zebra cross di Jalan Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan.
Meski demikian, Dinas Bina Marga DKI menuturkan pembuatan marka jalan, termasuk zebra cross, harus mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan serta standar teknis yang berlaku.
"Hal ini penting untuk memastikan aspek keselamatan seluruh pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor, serta mencegah potensi distraksi yang dapat mengganggu konsentrasi berkendara," kata Kapusdatin Dinas Bina Marga DKI Jakarta Siti Dinarwenny.
Dia menjelaskan ketiadaan zebra cross di lokasi itu terjadi karena adanya kegiatan pemeliharaan berkala jalan dan pembangunan/peningkatan trotoar pada akhir 2025, sehingga marka zebra cross eksisting tertutup oleh lapisan aspal baru.
Pemasangan kembali marka jalan, kata Siti, tidak dapat dilakukan secara langsung setelah pengaspalan, karena material marka thermoplastic memerlukan kondisi permukaan jalan yang telah melalui masa pengeringan optimal agar dapat melekat dengan baik dan memiliki daya tahan maksimal.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Bina Marga DKI telah menetapkan lokasi tersebut sebagai prioritas dalam rencana pemeliharaan marka jalan 2026, termasuk pembangunan kembali fasilitas zebra cross dalam waktu dekat.
Pewarta: Luthfia Miranda PutriUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026