Semarang (ANTARA) - Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) menyebutkan idealnya harga rumah bersubsidi sudah mengalami penyesuaian seiring dengan kenaikan harga bahan bangunan, apalagi terdampak situasi geopolitik.
Ketua Umum DPP Himperra Ari Tri Priyono di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, mengakui adanya kenaikan harga material, tetapi harga rumah bersubsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih tetap.
"Sampai hari ini kita dipaksa tidak terpengaruh (kenaikan harga material). Tapi sedang kita usulkan karena memang kondisi sedang begini ini, semua (harga) naik," katanya saat pembukaan Rakerda Himperra Jawa Tengah.
Ia memperkirakan dalam 2-3 bulan ke depan pemerintah membuat kebijakan harga rumah bersubsidi yang selama ini masih bertahan di angka Rp166 juta.
"Bagi kami yang kena dampak itu mungkin jadi rugi, semoga enggak ya. Tapi bagi masyarakat itu jadi menguntungkan karena sebentar lagi sudah ketahuan, barang naik, semua pasti akan naik," katanya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat yang selama ini belum memiliki hunian tetap untuk segera mengakses kepemilikan rumah bersubsidi sebelum harganya dinaikkan.
Ketua DPD Himperra Jateng Sugiyatno membenarkan bahwa secara ideal memang harga rumah bersubsidi dinaikkan seiring dengan kenaikan harga material, sebab selama tiga tahun bertahan di Rp166 juta.
Ia menjelaskan bahwa situasi geopolitik memang akhirnya berdampak terhadap industri perumahan, salah satunya dengan kenaikan harga material, seperti baja ringan, besi dan produk fabrikasi.
Karena harga rumah bersubsidi dipatok pemerintah di angka Rp166 juta, sedangkan harga material naik, kata dia, pengembang perumahan terpaksa menyusun ulang rencana anggaran biaya (RAB).
Menurut dia, kenaikan harga material sangat berpengaruh ke operasional pembangunan rumah bersubsidi sehingga pengembangan harus menghitung ulang perencanaan perumahan agar tidak merugi.
"Harga jual (rumah bersubsidi) kita kan sudah dipatok, sudah dibatasi. Jadi, sangat signifikan dampaknya kita harus menghitung ulang RAB, menghitung ulang perencanaan pembangunan perumahan itu," katanya.
Untuk kenaikan harga rumah bersubsidi secara ideal, ia mengatakan semestinya disesuaikan dengan persentase kenaikan harga material yang berkisar 10-20 persen.
"Kalau kita hitung semuanya dengan harga saat ini Rp166 juta, sudah tiga tahun ya, empat tahun berjalan ini belum naik. Paling tidak naik di angka 12-13 persen lah tahun depan," katanya.
Pewarta: Zuhdiar LaeisUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026