.....Nilai ekspor golongan barang yang naik itu cenderung dipicu kenaikan harga jual yang meningkat.....Medan (ANTARA Bengkulu) - Sumatera Utara tahun 2011 meraih 4,315 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari ekspor lemak dan minyak hewan/nabati dan menjadi kontribusi terbesar dalam penerimaan devisa daerah itu yang totalnya 10,902 miliar dolar AS.
"Nilai ekspor lemak dan minyak hewan/nabati hingga November 2011 itu naik 22,32 persen dari periode sama tahun 2010 yang mencapai 3,528 miliar dolar AS," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut), Suharno, di Medan, Rabu.
Nilai ekspor golongan barang yang naik itu cenderung dipicu kenaikan harga jual yang meningkat.
Pada November, nilai ekspor misalnya sudah mencapai 526,538 juta dolar AS dari Oktober yang masih 282,585 juta dolar AS.
Menurut dia, dengan devisa 4,315 miliar dolar AS, lemak dan minyak hewan/nabati yang di dalamnya terbesar berupa minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi kontribusi terbesar dalam total penerimaan devisa dari ekspor Sumut yang hingga November 2011 mencapai 10,902 miliar dolar AS.
Golongan barang itu sejak dulu memang selalu menjadi penyumbang terbesar dalam total penerimaan devisa Sumut, katanya.
Wakil Ketua I Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun, menyebutkan, harga CPO pada tahun ini diperkirakan berfluktuasi di kisaran 1.050 -1.200 dolar AS per metrik ton.
Secara rata-rata, harga ekspor minyak sawit mentah pada 2012 tertekan atau tinggal 1.050 dolar AS dari 2011 yang di kisaran 1.100 dolar AS per ton akibat dampak krisis di Eropa dan Amerika Serikat.
Krisis di AS dan Eropa akan membuat permintaan CPO di pasar internasional khususnya negara pembeli utama China dan India melemah dan itu memicu penurunan harga.
Harga CPO di pertengahan tahun 2012 bisa mencapai 1.200 dolar AS per ton dari harga di Desember 2011 yang masih 1.000 -1.050 dolar AS per ton akibat pasokan ketat menyusul peningkatan produksi yang tidak banyak.
Pada Oktober 2011-September 2012, produksi CPO dunia mencapai 51,1 juta ton atau hanya naik 2,4 juta ton dari periode sama sebelumnya yang 48,7 juta ton.
Sebaliknya, permintaan diperkirakan naik lebih besar menjadi 39,60 juta ton dari sebelumnya 37,60 juta ton. (T.E016)
: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.