Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Donald Hutasoit mengatakan masih menunggu hasil laboratorium dari Universitas Bengkulu dan laboratorium dari Jakarta untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian seekor gajah betina di Hutan Produksi (HP) Air Teramang sekitar lokasi konsesi PT Bentara Arga Timber (BAT).

"Kami telah membawa sample untuk di periksa di laboratorium Universitas Bengkulu untuk mengetahui penyebab pasti kematian gajah tersebut," kata Kepala BKSDA Bengkulu Donal Hutasoit di Bengkulu, Sabtu. 

Namun laboratorium biologi di Universitas Bengkulu hanya dapat menganalisa deoxyribonucleic acid (DNA) serta mengidentifikasi jenis gajah tersebut. 

Sehingga pihaknya juga akan memberikan sample gajah betina tersebut ke laboratorium yang ada di Bogor dan Jakarta untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian gajah tersebut. 

Ia mengatakan bahwa dari hasil laboratorium tersebut akan ketahuan apakah gajah betina mati karena faktor alami atau karena faktor manusia. 

Sebab di area penemuan gajah di temukan area bukaan masyarakat yang ingin membuka ladang sehingga hal tersebut sedang didalami oleh anggota kepolisian. 

Lanjut Donald, di lokasi tersebut juga ditemukan jerat dan sabun yang diduga unsur yang berbahaya bagi gajah jika terkonsumsi. 

"Lokasi penemuan gajah tersebut merupakan daerah habitat gajah sebab masuk koridor Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)," terangnya. 

Ia mengatakan gajah merupakan satwa yang hampir punah sehingga dengan kematian spesies ini pihaknya akan melakukan pemantauan dan perlindungan yang lebih terhadap gajah tersebut. 

Sebelumnya, pada Senin (7/6) sekitar pukul 08.00 WIB anggota Polsek Sungai Rumbai mendapat Laporan dari BKSDA Bengkulu bahwa pada saat Tim BKSDA melaksanakan patroli pada 25 Mei 2021 menemukan bangkai gajah di HP Air Teramang konsesi PT BAT.

Pewarta: Anggi Mayasari

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2021