Bengkulu (Antaranews Bengkulu) - Sejumlah warga Desa Surau Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, mengeluhkan pencemaran air Sungai Susup yang diduga akibat aktivitas pertambangan batu bara di hulu sungai.

"Biasanya air sungai ini masih kami pakai untuk dimasak menjadi air minum, tapi delapan bulan terakhir keruh dan kadang hitam," kata Siti Romna, warga Desa Surau di Bengkulu, Rabu.

Ia mengatakan aliran air Sungai Susup dan Sungai Rindu Hati selama ini menjadi andalan masyarakat desa tersebut untuk kebutuhan mandi dan cuci serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Pencemaran sungai yang ditandai dengan air keruh berwarna abu-abu hingga sewaktu-waktu kuning bahkan menghitam saat musim hujan membuat warga tak bisa lagi memanfaatkan air sungai tersebut.

"Apalagi kalau musim hujan air akan menghitam, karena penuh butiran halus batu bara," ucapnya.

Saat musim hujan dan air berubah warna menjadi hitam, warga tak berani lagi turun ke sungai, sebab pengalaman beberapa orang yang mandi di sungai tersebut mengalami gatal-gatal pada kulit.

Sementara warga desa lainnya, Misdianto mengatakan kekeruhan air sungai semakin parah sejak operasi pertambangan batu bara PT Bara Mega Quantum dalam delapan bulan terakhir.

"Beberapa warga sempat protes turun ke lokasi penambangan untuk menghentikan aktivitas pertambangan karena air sungai menjadi keruh," kata dia.

Penambangan batu bara oleh perusahaan tersebut, menurut Misdianto, diduga menjadi biang kerok kekeruhan air sungai yang menjadi andalan masyarakat untuk kebutuhan air sehari-hari hingga irigasi persawahan.

Lebih lanjut, ia mengatakan perwakilan warga lima desa yakni Surau, Taba Teret, Taba Baru, Tanjung Heran dan Rindu Hati telah menggugat izin pinjam pakai kawasan hutan yang diperoleh PT Bara Mega Quantum dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Kalau penambangan itu berlanjut maka nasib kami dipertaruhkan, tidak hanya air bersih tapi juga air irigasi persawahan lahan pangan," kata dia.

Pewarta: Helti Marini S

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2018