Setiap hari mendapat pasokan rata-rata di atas 500 kilogram dari sebelumnya paling tinggi 200 kilogram, kata seorang pedagang pengumpul getah karet H Jasarudin, Selasa.
Ia mengatakan, untuk harga beli pekan ini berkisar Rp10.000-Rp10.500 per kilogram dan tergantung kualitas, harga itu naik dari sebelumnya bertahan Rp9.500 per kilogram.
Dengan harga jual sekarang ini petani baru bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, namun belum bisa menyisihkan untuk membeli pupuk dan pemeliharaan kebun.
Meskipun harga produksi sawit mereka juga merangka naik, tapi kebutuhan keluarga dan anak sekolah tetap ditopang dari produksi dia jenis tanaman tersebut.
"Sebelumnya kami merumahkan para tenaga panen karena harga belum stabil, namun saat ini tenaga panen karet mulai bekerja kembali," ujarnya.
Tenaga pengeres karet itu hasil getahnya tetap dibagi dua dengan pemilik, dengan harapan pekerja itu bisa melakukan kegiatannya dengan berusungguh-sungguh karena pohon karet rentan akan kerusakan.
Seorang pemerhati perkebunan Edi Sugiarto mengatakan, petani karet di Bengkulu hingga saat ini masih menjual getah dalam bentuk asalan, sehingga harga beli pedagang tergolong rendah.
Kalau petani karet di luar Bengkulu sudah ada menjual getah karet dalam bentuk setengah olahan ke pabrik, sehingga mereka menikmati harga tinggi.
Ia menilai, mutu getah karet petani di Bengkulu sebagian besar sangat bagus dan tidak ada campuran, berbeda dengan produksi petani di provinsi tetangga ada yang masukan tanah dan batu dalam gumpalan karet.
Namun kelemahan petani Bengkulu belum ada yang mau mengelola getah karet setengah jadi seperti petani di Jambi yaitu dibuat tipis dan kering seperti olahan pabrik.
Padahal potensi tanaman karet di Bengkulu sangat cocok bila dibadingkan tanaman sawit karena topografinya bergelombang dan berbukit-bukit.
Tanaman karet juga bisa menahan tanah agar tidak longsor disamping menjadi pohon pelindung, berbeda dengan tanaman sawit yang cendrung mau tumbuh subur pada lahan gambut dan datar.
Akibat ketidak tahuan petani Bengkulu mereka menanam sawit pada daerah bergelombang dan terjal, sehingga saat panen buahnya masuk jurang dan menyulitkan, ujarnya.
Pewarta: Oleh Zulkifli LubisUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.