Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu di Jakarta, Selasa, mengatakan setelah absen selama tiga tahun, diharapkan Pawai Budaya Nusantara tahun ini akan berlangsung spektakuler.
"Pawai akan berlangsung meriah dan spektakuler karena akan ada 33 provinsi dan sejumlah BUMN yang akan menampilkan keunikan, tradisi, dan kreativitasnya masing-masing. Ini adalah sebuah perhelatan akbar seni pertunjukan. Bisa dibayangkan akan ada lebih dari 4.000 seniman yang ikut andil disitu mulai dari pemusik, penyanyi, penari, dan masih banyak lagi," kata Mari Elka Pangestu.
Semua seniman, kata dia, akan berlomba untuk menunjukkan kekayaan budaya daerahnya.
Mari menambahkan Indonesia sangat kaya akan kegiatan pawai budaya atau karnaval yang berlangsung di berbagai daerah sehingga tidak berlebihan bila Indonesia dikatakan sebagai "Negeri 1.000 Karnaval".
"Itu karena begitu banyak dan beragam kegiatan pawai dan karnaval dengan segala atribut, keunikan, dan tradisi masing-masing daerah yang tidak akan ditemui di tempat atau di negara lain," katanya.
Pawai Budaya Nusantara yang berlangsung setiap 18 Agustus diharapkan mampu menjadi puncak dari berbagai kegiatan pawai dan karnaval di berbagai daerah.
"Dari segi konten kita sangat kaya, tinggal memperbaiki organisasi penyelenggaraan, meningkatkan mutu seni pertunjukan kontemporer melalui karnaval, dan publikasi agar karnaval di daerah menjadi agenda tahunan yang rutin," jelas Mari.
Tahun ini pada ajang Pawai Budaya Nusantara 2013 beberapa daerah akan menampilkan kesenian dan seniman terbaik di daerahnya.
Mari mencontohkan Kontingen Gorontalo menggarap "Mopoyitohu Elengge," suatu tradisi masyarakat agraris dalam menumbuk padi yang diekspresikan dengan ceria dan gembira.
Kontingen Kalimantan Timur menampilkan "Bening Hutan Wehea", garapan tari yang menyerukan kesadaran akan hutan bagi kelangsungan bumi dan manusia.
Sementara, Kontingen Papua Barat akan mempersembahkan "Tari Afo Refe, Engge dan Selawa", yakni tiga tarian yang menggambarkan proses ritual pembelajaran tentang hal-hal yang bersifat sakral bagi anak laki-laki.
Kontingen Provinsi Maluku Utara akan menyajikan "Tari Soya-Soya" yang menggambarkan semangat perjuangan melawan penjajah di masa lalu yang dalam perkembangannya, tarian ini difungsikan untuk penyambutan tamu.
Kontingen tuan rumah DKI Jakarta menggarap "Saujana Jakarta", suatu tradisi lokal Ondel-Ondel dipadu dengan karya pembauran tradisi lokal dan budaya China, dan Barat dalam bentuk tari Betawi dan musik Tanjidor.
"Harmonisasi karya seni pertunjukan ini menggambarkan masyarakat Jakarta yang terbuka dan toleran akan perbedaan dan kemajemukan," katanya.
Selain itu, Kontingen Jawa Barat berkreasi ¿Wayang Hihid Langgir Badong¿, suatu karya yang menginterpretasikan situasi sosial politik Indonesia masa kini yang cukup gerah.
Melalui simbol hihid atau kipas terbuat dari bambu, seniman menyerukan perdamaian, kerja sama, membangun semangat persatuan dan kesatuan untuk Indonesia tercinta. (Antara)
Pewarta: Oleh Hanni SofiaEditor : Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026