Apa yang paling menginspirasi dari Indonesia adalah semangat perjuangan, kedamaian dan kekayaan budaya yang merupakan aset untuk memelihara persahabatan antara masyarakat Indonesia dengan rakyat bangsa-bangsa lain.
Hal tersebut dikemukakan Kepala Badan Dakwah Islamiyah Iran Seyed Mehdi Khamoushi saat mengunjungi Indonesia pada 12-16 September lalu bersama Direktur Utama Kantor Berita Mehr Reza Moghadasi.
Indonesia dan Iran telah mencatat peningkatan hubungan bilateral yang serius, dan mempererat persahabatan kedua bangsa dengan semakin luasnya celah kerja sama untuk memanfaatkan potensi-potensi kedua negara.
"Kepentingan yang sama antara dua negara mengenai aspek kebudayaan juga membuka peluang kerja sama, salah satunya untuk menyebarluaskan informasi atau berita yang penting dan objektif mengenai kebudayaan antara kedua bangsa," kata Khamoushi saat berdiskusi dengan Direktur Utama Kantor Berita Antara Saiful Hadi pada awal kunjungannya di Jakarta, Jumat (13/9).
Khamoushi menekankan pentingnya pertukaran informasi kebudayaan antara Indonesia dan Iran untuk mengenalkan masing-masing entitas bangsa dengan populasi pemeluk Islam yang besar di dunia.
Semakin mesranya hubungan kedua bangsa yang besar ini adalah tujuan yang sangat mungkin dicapai. Kedua bangsa juga masih dalam proses membangun kemandirian masyarakatnya serta membangun hubungan antarindividu dan antarbangsa yang kuat.
Seperti yang terjadi di Teheran, Iran, sejak Kamis (19/9) kemarin. Kedutaaan Besar RI bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia serta Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam Iran telah membuka Festival Kebudayaan 1.000 tahun hubungan Indonesia dan Iran.
Festival ini berlangsung di tiga lokasi dan diisi pementasan kesenian, pembuatan seni kriya, dan festival film.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Muhammad Nuh juga dijadwalkan akan membuka secara resmi pameran yang berlangsung pada 19-25 September ini.
Direktur Utama Kantor Berita Mehr Reza Moghadesi yang baru-baru ini bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Iran Dian Wirengjurit mengatakan, selain budaya, begitu banyak potensi di bidang ekonomi, politik antarkedua negara yang harus dikembangkan.
"Dan harus dilanjutkan dengan media yang bertugas untuk menyampaikan potensi Iran dan Indonesia kepada masyarakat," katanya.
Moghadasi juga sepakat dengan pentingnya kerja sama Mehr, sebagai salah satu kantor berita penting di Iran dengan LKBN Antara di Indonesia untuk saling menyebarluaskan informasi mengenai kedua bangsa kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia dan Iran.
"Kerja sama antara Mehr dan Antara diharapkan dapat memberikan poin menarik tentang kedua negara sehingga semakin mendekatkan hubungan kedua negara," katanya.
Sedangkan Saiful Hadi menggarisbawahi bahwa kerja sama dua kantor berita diharapkan dapat menyebarkan berita dari kedua bangsa secara objektif.
"Antara Iran dan Indonesia banyak kesamaan, di antaranya Indonesia baru 15 tahun lepas dari era yang dapat disebut rezim 'otoriter' Soeharto. Sekarang ini kami terus berkembang," ujarnya.
Kemesraaan Sejak Satu Milenium lalu
Menurut informasi dari KBRI di Teheran, Iran, yang diunggah di laman resmi Kementerian Luar Negeri RI, masyarakat Indonesia dan Iran telah menjalin hubungan emosional dan melakukan berbagai kerja sama sejak 10 abad lalu, walaupun nyatanya hubungan diplomatik kedua negara baru dibangun 60 tahun lalu.
Hal tersebut didasarkan dari penemuan arkeologis pusara berbahasa Parsi (Bahasa resmi di Iran) di kawasan Barus, Sumatera-Barat, Indonesia.
Angka 1.000 tahun itu yang dapat menjadi momentum untuk merekatkan hubungan emosional ke dalam berbagai bentuk kerja sama yang lebih nyata dan relevan di bidang politik, ekonomi dan sosial-budaya.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh saat berkunjung ke Kantor Berita Antara bersama Khamoushi dan Mogahdeshi mengatakan banyak hal yang dapat dipelajari Indonesia dari Iran, begitu juga sebaliknya.
Farazendah menilai, pembangunan infrastruktur kota Jakarta dan juga cara pengembangan pendidikan dan budaya Islam, Indonesia dapat memetik banyak manfaat dari kerja sama dengan Iran.
"Saya harap tidak ada kerja sama antara dua negara yang terhenti, apalagi saya sangat tertarik dengan hubungan kebudayaan karena konektivitas 'people to people' sangat penting," ujarnya.
Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan Iran dan Indonesia selalu memelihara hubungan bilateral dengan berbagai kunjungan kehormatan dari pejabat-pejabat penting kedua negara.
Saat berbincang dengan Khamoushi, Nasaruddin mengatakan alangkah beruntungnya Indonesia, jika Khamoushi, yang juga intelektual Islam, dapat menyampaikan pidatonya mengenai mahzab-mahzab Islam kepada warga Indonesia.
Khamoushi menyambut baik usulan Wakil Menteri, namun jadwal kunjungan yang padat, membuat Khamoushi hanya sempat menyampaikan pidatonya saat sedang mengunjungi Pusat Kebudayaan Iran di Indonesia.
Khamoushi mengisi sesi diskusi dan juga menyampaikan beberapa tafsir yang menjadi ajang pertukaran informasi bersama jamaah Indonesia.
Mendambakan Indonesia yang lebih "Islami"
Masyarakat Indonesia telah memikat Khamoushi dalam beberapa kali kunjungannya ke sejumlah tempat di Indonesia. Dia menyebut masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang ramah dengan kekayaan budaya dan makanan yang sangat menarik.
Dalam sebuah kesempatan, dia juga terpukau oleh kemegahan Masjid Dian Al-Mahri atau dikenal dengan Mesjid Kubah Emas di Depok, Jawa Barat.
"Allah maha besar," teriaknya kagum, ketika baru saja memasuki gerbang Masjid.
Setelah menunaikan shalat dzuhur, Khamoushi kepada dua orang pengurus masjid itu berpesan mengenai pentingnya kegiatan di tempat ibadah seluas 50 ribu meter persegi itu lebih diaktifkan.
Dia berharap frekuensi kegiatan pengajian di masjid itu bisa ditambah, begitu juga jumlah petugas yang mengurus tempat ibadah dengan lima kubah emas tersebut.
"Akan lebih khidmat, jika di masjid ini pujian-pujian untuk Allah SWT lebih sering dikumundangkan," ujarnya.
Khamoushi memuji keindahan interior mesjid yang dibangun oleh pengusaha asal Banten itu. Namun dia menyebut alangkah lebih indahnya, jika hiasan seperti kaligrafi Islam, atau grafis nama-nama Allah SWT lebih banyak menyemarakkan interior masjid tersebut.
"Di Tehran, Iran, terdapat masjid seperti ini, namun interiornya dipenuhi kaligrafi Islam dan terlihat sangat indah," ujarnya.
Perluas Wawasan Islam
Beberapa hari sebelum bertandang ke Mesjid Kubah Emas Depok, Khamoushi dan Reza Moghadasi menghabiskan sore yang indah dengan berdiskusi mengenai ajaran Islam dengan Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Bidang Luar Negeri Iqbal Sulam di Kantor PBNU.
Didampingi atase pers dari Kedutaan Besar Iran di Jakarta Ali Pahlevani, Khamoushi banyak menceritakan mengenai ajaran dari mahzab-mahzab Islam.
Kemudian, dalam sebuah sesi diskusi di Pusat Kebudayaan Iran di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan, Khamoushi mengajak umat Islam untuk lebih solid dan cerdas dalam menyerap informasi tentang masalah global.
Khamoushi mengatakan tekanan Amerika Serikat saat ini dalam konteks hubungan internasional dengan bangsa-bangsa Islam, di antaranya dipengaruhi dominasi kekuatan AS di perusahaan-perusahaan media internasional.
Bahkan kekuatan media yang dipengaruhi AS, menurut Khamoushi, lebih besar dibanding porsi kekuatan militer negeri Paman Sam tersebut.
"Perlu diketahui kekuatan pertama AS adalah media, dan kedua baru militer," ujarnya.
Menurutnya, jika bangsa Islam sudah solid dan mampu mandiri serta "cerdas" dalam menyebarkan informasi, kemajuan negara-negara Islam untuk menyaingi para adidaya dunia bukanlah hal yang mustahil.
Dia mencontohkan, Iran sedang berada dalam langkah tersebut. Dia mewanti-wanti keras pihak-pihak yang ingin mengacaukan bangsa-bangsa Islam.
"Iran nantinya akan dapat memenangkan perang opini, begitu juga dengan masalah di Suriah," ujarnya.
Pewarta: Oleh Indra Arief Pribadi: Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026