Surabaya (Antara) - Ketua Unit Kebudayaan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) Ismail Ahmed membantah bahwa negaranya mengklaim tari pendet yang merupakan tarian pemujaan umat Hindu dari Bali itu.

"Bagaimana kami bisa dikatakan melakukan klaim, padahal kami sendiri tidak pernah tahu pendet itu seperti apa, bahkan melihat pun tidak pernah. Oleh karena itu, kita harus melakukan kolaborasi seperti ini agar terjadi kongsi (persatuan)," katanya kepada Antara di Surabaya, Rabu.

Di sela mendampingi 44 mahasiswa USIM yang melakukan "Silang Budaya" (Cultural Exchange) di Universitas Narotama (Unnar) Surabaya, dia menduga konflik terkait dengan pendet itu diciptakan orang luar untuk merusak hubungan Malaysia dan Indonesia sebagai bangsa serumpun.

"Untuk kongsi itulah, kami melakukan silang budaya untuk mengangkat kembali budaya tradisional Nusantara. Kami sudah ke Medan dan Jakarta untuk tujuan yang sama. Maka, sekarang ke Surabaya," katanya.

Menurut dia, lawatan budaya itu penting untuk menangkal masuknya budaya Barat ke bangsa-bangsa Nusantara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura, meski nantinya kongsi juga dikembangkan untuk kerja sama akademik, baik pembelajaran maupun riset.

"Kami mengutamakan lawatan budaya karena budaya itu merupakan medium yang paling mudah untuk menumbuhkan keakraban. Selain itu, budaya itu merupakan medium yang bisa dinikmati siapa saja," katanya.

Dalam "Silang Budaya" itu, puluhan mahasiswa USIM juga menampilkan tarian piring, dikir barat, zapin, dan joget lambak. Umumnya tarian itu dilakukan dengan duduk, kecuali zapin dan joget lambak yang sempat mengundang mahasiswa dan sivitas akademika Unnar joget bersama.

Sementara itu, pihak Unnar mempersembahkan tarian pendet (Bali), tarian jejer (Banyuwangi), remo (Surabaya), dan reog Ponorogo, bahkan "Goyang Caesar" juga sempat mengundang puluhan mahasiswa USIM untuk joget bersama.

Tidak hanya itu, kedatangan puluhan mahasiswa yang melawat ke Surabaya dan sekitarnya pada tanggal 2--7 November itu juga disambut atlet panahan dan silat "Tetada Kalimasada" yang merupakan mahasiswa Unnar yang mendapat beasiswa karena prestasi di tingkat nasional dan internasional.

Selain melawat ke Unnar, para mahasiswa Malaysia itu juga telah mengunjungi Monumen Kapal Selam, Galer Seni "House of Sampoerna", makam Wali Songo Sunan Ampel, Panti Asuhan Muhammadiyah Kenjeran Surabaya, Jembatan Suramadu, Masjid Cheng Ho, Universitas dr. Soetomo, Pusat Kerajinan Tanggulangin Sidoarjo, Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, dan Tugu Pahlawan.

Dalam kesempatan itu, mahasiswa USIM Nurul Umira mengaku senang bertandang ke Surabaya. "'Saye' kagum banyak teman di sini yang ramah dan 'bise sharing' kebudayaan," katanya dengan logat Melayu yang kental.

Ia mengaku ada beberapa budaya di Malaysia yang mirip dengan Indonesia karena bangsa serumpun. "Reog Ponorogo hampir sama, ya, dengan barong di 'Malaysie'," kata mahasiswa ekonomi USIM yang mengaku baru tahu tentang reog itu.

Sementara itu, sebanyak 14 mahasiswa De La Salle University Das Mariñas (DLSU) Philippines mengadakan "Academic and Cultural Immersion Programme" untuk belajar tentang kebudayaan Indonesia di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya pada tanggal 27 Oktober 2013 hingga 2 November 2013.


: Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026