Mukomuko,  (Antara) - Warga Desa Ujung Padang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, mengeluhkan bau dari tubuh kerbau yang berkeliaran di pemukiman penduduk di wilayah itu.

"Setiap hari kami mencium bau busuk kerbau yang berkeliaran mencari makan di sekitar rumah kami ini," kata warga Desa Ujung Padang, Novi, di Mukomuko, Sabtu.

Menurut dia, bau kerbau itu sangat busuk karena seluruh tubuhnya penuh dengan lumpur.

Ia mengatakan, sudah tidak tahan lagi melihat kerbau berkeliaran di sekitar rumahnya. Karena tidak hanya bau busuk tetapi keberadaan belasan kerbau bisa mengancam nyawa anak-anak.

"Kalau kerbau itu tiba-tiba mengamuk yang bahaya anak-anak yang sedang bermain," ujarnya.

Ia menilai, pemerintah setempat terkesan tidak peduli dengan kondisi warganya. Buktinya sampai sekarang tidak ada tindakan penertiban hewan ternak tersebut.

Menurut dia, kerbau berkeliaran mencari makan di pemukiman penduduk hanya menguntungkan segelintir orang pemilik hewan ternak tersebut, sedangkan warga lainnya yang terganggu.

Tidak hanya bau busuk, lanjutnya, dirinya mengalami kerugian karena pagar di belakang rumahnya rusak oleh kerbau.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Mukomuko Jodi mengatakan instansi itu masih fokus menertibkan kerbau yang berkeliaran di bandar udara di daerah itu. Setelah itu baru berlanjut ke Desa Ujung Padang, Kelurahan Pasar Mukomuko dan Kelurahan Koto Jaya.

Terkait penertiban kerbau di bandara, lanjutnya, pihaknya telah memperingatkan warga pemilik hewan ternak itu.

"Kami sudah menemui 10 hingga 15 warga yang punya kerbau. Dan sudah kami peringatkan agar tidak membiarkan kerbau berkeliaran di bandara," ujarnya.

Menurut dia, sementara ini cara pendekatan seperti itu yang dapat dilakukan oleh instansi itu guna menjaga hubungan baik antara pribadi dengan pemilik kerbau.

Jangan sampai, lanjutnya, karena permasalahan ini, setelah dia tidak lagi menjabat di instansi ini, hubungannya dengan warga setempat itu menjadi tidak baik. ***1***




Pewarta: Oleh Ferri Arianto
: Triono Subagyo

COPYRIGHT © ANTARA 2026