Bengkulu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu menyatakan, penurunan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) dari 10 persen ke 7,5 persen hingga tiket transportasi udara mampu menahan laju inflasi Bengkulu.
"Tarif Angkutan Udara sejumlah maskapai memberikan promo tiket pesawat dalam rangka menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia. Perkembangan harga BBM non-subsidi Pertamina kembali melakukan penyesuaian pada 1 Agustus dan 20 Agustus 2025, harga Pertamax dan Pertamax Turbo mengalami penurunan," kata Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal di Bengkulu, Senin.
Pemerintah Provinsi Bengkulu mengeluarkan kebijakan menurunkan tarif PBBKB terhitung pada 20 Agustus 2025.
Hal tersebut membuat harga BBM di Provinsi Bengkulu yakni untuk Pertamax dan Pertamax Turbo mengalami penurunan sekitar 300 rupiah per liter dari harga sebelum penurunan PBBKB.
"Pada Agustus 2025, inflasi Provinsi Bengkulu sebesar 0,1 persen (mtm), turun dibandingkan Juli yang inflasi 0,4 persen. Dengan lima komoditas yang memberikan andil deflasi tertinggi yakni tarif angkutan udara, daging ayam, ayam hidup, tomat dan BBM," kata dia.
Kondisi tersebut mampu menahan angka inflasi tahunan Provinsi Bengkulu pada level 1 persen. Pada Juli inflasi Bengkulu berada pada 1,01 persen yoy, dan Agustus 2025 ini sedikit naik namun masih berada pada level 1 persen, yakni pada 1,30 persen yoy.
Lima komoditas yang mendorong inflasi Bengkulu yakni cabai merah, bawang merah, ikan dencis, beras dan sigaret kretek mesin.
Naiknya harga cabai merah, kata Win Rizal, karena faktor cuaca, penurunan produksi, dan berkurangnya pasokan mendorong kenaikan harga cabai merah.
Sementara, Bawang Merah pasokannya berkurang dari luar daerah mendorong kenaikan harga bawang merah.
"Harga beras mengalami kenaikan disebabkan oleh adanya kenaikan harga dari distributor. Selain itu berakhirnya masa panen menyebabkan stok beras berkurang," ucapnya.
Secara umum perekonomian Bengkulu masih berada dalam rentang target nasional yakni 2,5 persen plus minus 1. Namun, perkembangan harga beberapa komoditas tentunya tetap menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas inflasi.
