Jakarta (ANTARA) - Eks Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda mengatakan bahwa perempuan, khususnya para ibu, memiliki peran sentral dalam memastikan keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah, mengingat posisinya dalam memastikan ketahanan gizi keluarga.
“Program MBG akan efektif bila para ibu memahami nilai gizi seimbang dan mendukung pola makan sehat anak, baik di sekolah maupun di rumah,” ujar Erlinda di Jakarta, Kamis.
Perempuan, khususnya ibu, katanya, adalah guru pertama dan utama dalam pendidikan gizi anak. Di lingkungan rumah tangga, ibu dapat menanamkan kebiasaan pola makan sehat dengan memberi contoh nyata, seperti mengonsumsi sayur dan buah, menjaga kebersihan, serta tidak membuang makanan.
“Ibu bisa memperkenalkan nilai gizi sejak dini, mengajarkan anak mengenal karbohidrat, protein, dan vitamin dalam makanan sehari-hari. Literasi gizi sederhana ini sangat efektif jika dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Oleh karena itu, katanya, keterlibatan aktif perempuan di tingkat keluarga, sekolah, dan komunitas merupakan fondasi penting dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter menuju visi Indonesia Emas 2045.
Dia menilai bahwa selama ini pemerintah telah melibatkan perempuan melalui berbagai wadah seperti Posyandu, PKK, dan kader gizi desa. Namun ke depan, menurut Erlinda, pelibatan ini harus lebih sistematis dan berorientasi pada penguatan kapasitas.
Perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, katanya, tetapi juga harus diberi ruang untuk menjadi perancang kebijakan mikro di tingkat keluarga dan sekolah.
“Kalau ibu-ibu memiliki literasi gizi dan pemahaman tentang sanitasi serta keamanan pangan, mereka bukan hanya menjaga anak-anaknya sendiri, tetapi juga menjadi pengawas sosial di lingkungan sekitar. Ini merupakan bentuk nyata perlindungan anak dari sisi hak atas gizi dan kesehatan,” dia menambahkan.
