Ada pula yang mengaitkan penghentian ini dengan harga tiket yang dinilai relatif tinggi, sehingga membuat masyarakat beralih ke maskapai lain.
"Sedihnya & sebagai anak rantau milih maskapai ini bawak anak kecil nyaman + gak suka delay," tulis @lidya***.
Komentar lain juga menyoroti dampak terhadap aktivitas di Bandara Fatmawati Soekarno, khususnya terkait penggunaan fasilitas seperti terminal yang sebelumnya melayani penerbangan Garuda.
"Pelita ga ada, Garuda ga ada, lalu pesawat apa yg bisa masuk terminal 3 dari Bengkulu," ujar @ardodikan***.
Di sisi lain, tidak sedikit pula yang memahami langkah tersebut sebagai keputusan bisnis yang wajar. Mereka menilai industri penerbangan saat ini memang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari biaya operasional hingga persaingan yang semakin ketat.
Baca juga: Citilink mulai layani rute Bengkulu-Makkah
Baca juga: Pemprov Bengkulu minta Citilink tak kurangi penerbangan
Penerbangan terakhir Garuda Indonesia di Bengkulu pun menjadi simbol berakhirnya satu era.
Ucapan terima kasih dan perpisahan membanjiri berbagai unggahan di media sosial, menandai betapa besar kesan yang ditinggalkan maskapai ini bagi masyarakat Bengkulu.
Danantara beberkan rencana merger Garuda, Citilink, dan Pelita Air
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026