General Manager Garuda Indonesia perwakilan Bengkulu, Boby Pratama, menyebutkan rata-rata keterisian kursi atau okupansi penumpang di rute tersebut berada di kisaran 80 persen dari total kapasitas.
Meski tergolong cukup tinggi, angka tersebut masih dianggap belum mampu menopang efisiensi bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
“Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek bisnis secara menyeluruh. Sebelumnya juga telah dilakukan pertemuan antara Gubernur Bengkulu dengan manajemen Garuda di Jakarta untuk membahas persoalan ini,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa sebelum kebijakan ini diberlakukan, telah dilakukan pembahasan antara pihak manajemen Garuda Indonesia dengan pemerintah daerah, termasuk Gubernur Bengkulu, guna mencari solusi terbaik.
Namun, langkah penghentian operasional tetap menjadi pilihan dalam upaya efisiensi di tengah dinamika industri penerbangan nasional.
Baca juga: Lion Air operasikan delapan penerbangan keberangkatan haji Bengkulu
Baca juga: Cuaca buruk, penerbangan Lion Air rute Jakarta-Bengkulu mendarat di Palembang
Meski demikian, penghentian ini bukan berarti akses transportasi udara ke Bengkulu terputus sepenuhnya. Maskapai lain, termasuk anak usaha Garuda Indonesia, Citilink, masih tetap melayani rute penerbangan dari dan menuju Bengkulu, sehingga mobilitas masyarakat tetap terjaga.
Di media sosial, kabar ini memicu beragam reaksi dari warganet. Sebagian menyayangkan keputusan tersebut dan menilai kehadiran Garuda Indonesia penting sebagai simbol konektivitas kota dengan layanan premium.
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026