Beijing (ANTARA) - Pemerintah China menegaskan tidak menyuplai senjata untuk perang ke Iran sehingga ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengenakan tarif tambahan 50 persen ke China tidak tepat.
"China selalu bertindak bijaksana dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer, dan menerapkan kontrol ketat sesuai dengan hukum dan peraturan China tentang pengendalian ekspor dan kewajiban internasional yang berlaku. Laporan media terkait sepenuhnya dibuat-buat," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (14/4).
Sebelumnya diberitakan Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 50 persen pada barang China jika terbukti memasok senjata ke Iran.
"Jika AS melanjutkan kenaikan tarif terhadap China berdasarkan tuduhan ini, China akan merespons dengan tindakan balasan," tambah Guo Jiakun.
Pemberitaan lain menyebut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran akan menggunakan kemampuan militer baru jika perang dengan Amerika Serikat dan Israel berlanjut, seperti laporan media Iran, Fars.
"Kami belum menggunakan seluruh kemampuan kami dan jika perang berlanjut, kami akan mengungkap kemampuan yang tidak diketahui musuh," kata Juru Bicara (Jubir) IRGC. Hossein Mohebbi.
Sementara itu, Jubir Kementerian Pertahanan Iran Reza Talaeinik pada Senin (13/4) mengatakan bahwa kemampuan angkatan bersenjata Iran meningkat, dengan rudal, drone, senjata, amunisi, dan peralatan militer lainnya yang cukup untuk melanjutkan operasi ofensif dan defensif di masa mendatang, sebut kantor berita Iran, IRNA.
Blokede di Selat Hormuz yang diperintahkan Presiden Trump juga dinilai malah memperburuk situasi sekaligus langkah yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab.
Pewarta: Desca Lidya NataliaUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026