Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto merestui tujuh strategi Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat nilai tukar mata uang rupiah terutama setelah rupiah melemah (undervalue) dalam beberapa hari terakhir.

"Kami melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers selepas rapat terbatas Presiden Prabowo bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5) malam.

Tujuh strategi itu, yang pertama, Bank Indonesia terus memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk menjaga nilai tukar rupiah kembali stabil.

"Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu," ujar Perry.

Perry melanjutkan strategi kedua dan ketiga BI difokuskan kepada penguatan arus modal dan koordinasi fiskal-moneter.

Dia menekankan BI mengupayakan aliran modal masuk ke dalam negeri lewat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow (aliran masuk) sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi aliran keluarnya (outflow) SBN (surat berharga negara) dan saham. Itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih dari awal tahun hingga saat ini (year-to-date) masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah," kata Perry.

Terkait dengan itu, strategi ketiga, Bank Indonesia akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membeli SBN dari pasar sekunder.

"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year-to-date adalah Rp123,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi, termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa beli kembali (buyback) dan segala macam. Koordinasi erat antara fiskal dan moneter," ujar Gubernur BI.



Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026