Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Para produsen tahu tempe di Kota Bengkulu memperkecil ukuran untuk menghemat bahan baku kedelai yang harganya cukup tinggi saat ini.

"Bila tetap membuat dengan ukuran lama, tidak seimbang dengan harga kedelai dan akan rugi," kata seorang produsen tahu tempe di Kota Bengkulu Hadiman, Kamis.

Ia mengatakan, mengubah ukuran tempe dan tahu itu setelah melakukan mogok beroperasi selama dua hari, Senin (30/7) dan Selasa (31/7).

Untuk harga jual tahu ke pedagang terpaksa dinaikkan rata-rata Rp5.000 per bak (baskom) yaitu dari Rp90.000 menjadi Rp95.000 per bak.

Sedangkan pedagang pengecer menjual lagi pada pedagang asongan juga naik, mereka sebagian besar sudah memahami atas kenaikan tersebut.

Kendala pembuat tahu tempe adalah masalah bahan baku kedelai impor dari Rp6.400 naik menjadi Rp8.200        per kilogram.

"Dengan kenaikan kedelai cukup tinggi itu seluruh produsen tempe terancam gulung tikar, sedangkan upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut belu ada realisasinya," ujarnya.    
   Seorang pedagang tahu dan tempe di Pasar Panorama Kota Bengkulu, Kati mengatakan, pascaratusan perajin tahu tempe mogok selama dua hari, harga jual di pasaran naik rata-rata Rp5.000 per bak.

Biasanya setiap bak (baskom) berisi 220 tahu dijual Rp95.000 sekarang naik menjadi Rp100.000 per bak.

Ia mengatakan, satu bak berisi sebanyak 220 tahu goreng dan 150-160 tahu putih dijual bervariasi, sedangkan tempe sementara tetap menggunakan harga lama.

 Meskipun harga per bak sudah naik, namun untuk dijual secara eceran ke masyarakat tetap seperti semula yakni Rp2.000 per empat potong tahu putih dan Rp1.000 per lima potong tahu goreng, namun ukurannya diperkecil.

Begitu pun halnya dengan tempe masih menggunakan harga lama yakni Rp1.500-Rp2.000 dan Rp4.000 per batang namun ukurannya juga diperkecil. (ANT)



Editor : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026