.....PTP Nusantara VII Bengkulu sebagai bapak angkat hanya memprioritaskan peremajaan kebun inti, sedangkan plasmanya menjadi penonton.....Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Para petani peserta plasma PTP Nusantara VII Bengkulu mengharapkan peremajaan kebun karet mereka karena sudah tidak produktif lagi sebab usianya di atas 25 tahun.
"PTP Nusantara VII Bengkulu sebagai bapak angkat hanya memprioritaskan peremajaan kebun inti, sedangkan plasmanya menjadi penonton," kata seorang Ketua Kelompok Tani plasma Karet PTP Nusantara VII Bengkulu Jonhardin, Selasa.
Ia mengemukakan, sebagai peserta plasma mereka aktif melaksanakan kewajiban yaitu melunasi kredit namun terkena imbas dari rekan lain yang tidak melakukan kewajibannya. Menurut dia, bila kebun karet plasma itu diremajakan dan bibitnya sama dengan kebun inti sekarang ini, petani tidak berkeberatan untuk melaksanakan kewajibannya dalam melunasi kredit kebunnya.
Dengan kondisi sekarang kebun yang pohonnya sudah tua tidak produktif dan untuk meremajakannya petani plasma tidak mampu meskipun dalam bentuk kelompok. Salah satu upaya meningkatkan produksi adalah diremajakan oleh bapak angkat, petani bersedia meneken akad kredit baru untuk membayar angsuran pada tanaman yang menggunakan bibit unggul sekarang ini.
Ia mengaku kesulitan untuk meremajakan kebun plasma seluas dua hektare tersebut karena selain tidak punya modal, juga sulit mendapatkan bibit seperti yang ditanam pada kebun inti sekarang ini, ujarnya. Produksi karet mereka saat ini sebagian besar turun akibat pengaruh kemarau, sedangkan harga beli pedagang pengumpul berkisar Rp7.800-Rp8.200 per kilogram.
Kepala Tata usaha PTP Nusantara VII Bengkulu Fatahul mengatakan, Badan usaha Milik Negara itu bersedia meremajakan kebun plasma tersebut asalkan seluruhnya sudah melunasi kewajibannya. Saat ini ada belasan ribu perserta plasma PTP Nusantara VII yang melunasi kewajibannya hanya sekitar 20 persen, sedangkan pemilik kebun itu sudah orang ketiga bahkan ke sebalas akibat diperjual belikan pemilik pertama, ujarnya.(Z005)
Editor : Rangga Pandu Asmara Jingga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.