.....Kalau sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa penyakit menular sebelumnya telah berjalan, tinggal lagi kesadaran warga untuk membersihkan lingkungan .....
Mukomuko (ANTARA Bengkulu) - Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mengimbau warga secara rutin membersihkan lingkungan sekitarnya guna mengantisipasi serangan demam berdarah dengue saat pergantian musim dari kemarau ke hujan.

"Kalau sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa penyakit menular sebelumnya telah berjalan, tinggal lagi kesadaran warga untuk membersihkan lingkungan sekitarnya agar nyamuk yang menyebabkan penyakit DBD tidak bisa bersarang," kata Pelaksana Harian Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko Endris Maulinda di Mukomuko (sekitar 270 kilometer utara Kota Bengkulu), Selasa.

Endris menyampaikan hal itu menjawab pertanyaan wartawan terkait upaya Dinkes mengantisipasi serangan penyakit DBD menyusul pergantian musim di daerah itu dari kemarau ke hujan. Sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa penyakit menular itu, katanya, melalui berbagai tahapan antara lain secara rutin penyuluhan oleh petugas di 26 puskesmas guna meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk.

Pemberantasan sarang nyamuk, katanya, melalui Gerakan 3M yakni menguras bak air secara rutin, menutup berbagai tempat penampungan air, dan menimbun berbagai barang yang dapat menimbulkan genangan air karena rawan menjadi tempat nyamuk bersarang. "Kalau antisipasi dan mencegahan itu yang perlu dilakukan yakni adalah PSM untuk 3M," ujarnya.

Selain itu, katanya, cara seperti itu sangat efektif untuk memutuskan mata rantai perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti, penyebab DBD, yang biasa hidup di air tenang dan membawa virus dengue.

Sistem kewaspadaan dini lainnya, katanya, dengan mempersiapkan tenaga medis di 16 puskesmas untuk mengetahui gejala masyarakat yang terkena virus dengue agar bisa ditangani secepatnya. "Serta melakukan `fogging` fokus atau pengasapan di lokasi temuan kasus yang berfungsi memutuskan mata rantai perkembangannya selain mencegah virus itu meluas ke tempat lain," ujarnya.

Dia menjelaskan, pada 2012 instansi itu hanya memiliki anggaran untuk pengasapan 30 kali, namun terhitung sejak Januari hingga Oktober, kegiatan pengasapan sudah 56 kali. "Kekurangannya tetapi kami irit atau meminta tambahan dana untuk pengasapan ke pemerintah setempat," ujarnya.

Jumlah kasus warga yang terkena DBD di daerah itu sejak Januari hingga Oktober 2012 sebanyak 56 kasus dengan rincian pada Januari 10 kasus, Februari lima kasus, Maret tujuh kasus, April dua kasus, Mei satu kasus, Juni 10 kasus, Juli satu kasus, Agustus tujuh kasus, September 10 kasus, dan Oktober tiga kasus.(fto)



Editor : Rangga Pandu Asmara Jingga

COPYRIGHT © ANTARA 2026