.....Ada 10 alat pendeteksi gempa atau sensor seismograf yang ditempatkan di beberapa titik, untuk merekam gempa berkekuatan di atas 5 skala Richter dan kekuatan di bawahnya"
Kepahiang (ANTARA Bengkulu) - Kepala Stasiun Geofisika BMKG Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Dadang Permana mengatakan saat ini Bengkulu dilengkapi 10 alat pendeteksi gempa atau sensor seismograf untuk merekam aktivitas kegempaan di daerah ini.

"Ada 10 alat pendeteksi gempa atau sensor seismograf yang ditempatkan di beberapa titik, untuk merekam gempa berkekuatan di atas 5 skala Richter dan kekuatan di bawahnya," katanya di Kepahiang, Jumat.

Ia mengataan enam alat sensor seifmograf yang mampu merekam gempa yang berkekuatan di atas 5 SR ditempatkan di enam titik yakni di Mukomuko Kabupaten Mukomuko, Muara Aman Kabupaten Lebong, Manna Kabupaten Bengkulu Selatan.

Selanjutnya satu alat ditempatkan di Universitas Bengkulu Kota Bengkulu, di Kepahiang Kabupaten Kepahiang dan satu alat ditempatkan di Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara.

"Enam alat ini ditempatkan dengan formasi mengelilingi pusat-pusat gempa di lempeng Indoaustralia dan Eurasia," katanya menjelaskan.

Dadang mengatakan data gempa yang direkam alat tersebut terhubung langsung dengan BMKG pusat.

Laporan data gempa akan muncul maksimal lima menit setelah gempa terjadi.

"Enam alat yang mendeteksi gempa di atas 5 SR ini terhubung ke pusat, sebab gempa dengan kekuatan besar akan berstatus bencana nasional," tambahnya.

Sedangkan empat alat pendeteksi yang mampu merekam kekuatan gempa di bawah kekuatan 5 SR hanya mengirimkan hasil rekaman ke BMKG Kepahiang.

Alat tersebut juga ditempatkan di empat titik di sepanjang Patahan Sumatra atau "Sumatran trance", tepatnya di wilayah pegunungan Bukit Barisan.

Empat alat tersebut masing-masing ditempatkan di Taba Renah Kabupaten Rejang Lebong, Bermani Ilir di Kabupaten Kepahiang, Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah dan di Sukaraja Kabupaten Seluma.

"Seperti gempa yang terjadi pada 1 Februari berkekuatan 5,9 SR, gempa susulan terdeteksi empat kali tapi di bawah kekuatan 5 SR," tambahnya.

Sama dengan enam alat deteksi gempa lainnya, empat alat deteksi gempa tersebut kata dia juga memberikan laporan hasil rekaman, paling lama lima menit setelah gempa.

Selain 10 alat deteksi gempa tersebut, BMKG Kepahiang juga memiliki 18 alat pendeteksi kekuatan gempa yang dirasakan atau disebut "Mercalli Modify Intensity" (MMI).

Bengkulu pernah dilanda gempa dengan kekuatan 7,3 SR pada 2000 dan kekuatan 7,9 SR pada 2007 yang menimbulkan korban jiwa dan ribuan rumah rusak berat.

Menurutnya, meski peralatan pendeteksi gempa sudah cukup memadai, kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana serta mengetahui daerahnya sebagai daerah rawan bencana adalah hal yang tidak kalah penting. (KR-RNI/D009)



Editor : AWI-SEO&Digital Ads

COPYRIGHT © ANTARA 2026