Mereka duduk di kursi-kursi yang melingkari meja bundar dengan penutup payung besar di atasnya.
Angin dingin sore selepas hujan menghempas pipi-pipi polos yang menunjukkan mereka baru saja akan beranjak menjadi remaja.
Di hadapan masing-masing mereka tersaji gelas minuman bertuliskan "slurpee", sebatang cokelat dan beberapa bungkus makanan ringan.
Wawan (13) salah satu anak yang ikut "nongkrong" di gerai tersebut mengatakan dirinya biasa berkumpul bersama teman-teman di tempat itu sekali dalam seminggu.
"Biasanya hari Jumat sepulang sekolah sama temen-temen," kata siswa kelas dua di salah satu sekolah menengah pertama di kawasan Jakarta Selatan itu.
Dia juga mengatakan, sekali jajan di gerai itu bisa mengahbiskan uang sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000.
"Paling beli minuman slurpee yang rasanya seperti sirup beraneka rasa sama beli cokelat atau chiki," katanya.
Dia mengatakan, kebiasaan nongkrongnya berawal dari ajakan teman-teman sekolah.
"Enak aja nongkrong di sini sama temen-temen sekolah, dan harganya juga murah-murah trus suasananya enak banyak anak-anak dari sekolah lain disitu, bahkan pernah ketemu sama anak SD sampai SMA," katanya.
Dia juga mengakui bahwa budaya nongkrong di gerai-gerai ritel tersebut sedang menjadi kebiasaan baru bagi sebagian anak-anak seusianya.
Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimoeso mengatakan para remaja dimanapu termasuk di Indonesia merupakan usia yang "labil" dan selalu mencari jati diri.
"Komunikasi yang kurag lancar dan kurang sepadan antara orang tua dan remaja menyebabkan para remaja kemudian mencari jati diri di luar lingkungan keluarganya.
Mereka, tambah Sudibyo kadang mencari sesuatu yang tengah menjadi "trendsetter" di kalangan remaja.
"Secara kebetulan, pada saat ini beberapa gerai ritel termasuk salah satunya 7-eleven menjadi ajang kumpul sebayanya,mereka menjadi merasa nyaman untuk berbincang sesana teman-teman gaul," katanya.
Dia juga menambahkan, jika orang tua bisa menjadi teman "gaul" bagi anaknya maka bisa mengurangi resiko anak remaja mencari alternatif di luar.
"Ajang kumpul teman-teman sebaya ini sebetulnya tidak hanya terbatas pada tempat seperti gerai-gerai ritel tersebut, bisa di mana saja yang penting para remaja ini merasa nyaman namun kebetulan 7-eleven dan semacamnya mampu menyentuh perhatian mereka," katanya.
Dia juga mengatakan, budaya nongkrong di kalangan remaja akan banyak menimbulkan pengaruh terutama bagi mereka yang landasannya lemah.
"Contohnya budaya nongkrong di gerai-gerai ritel ini bisa menimbulkan pengaruh hedonisme dan konsumerisme," katanya.
Namun menurut dia, budaya hedonisme atau budaya konsumerisme masih masuk pada tahap yang bisa "disembuhkan" di kalangan remaja.
"Yang dikhawatirkan dari budaya nongkrong ini bisa berkembang lagi lebih jauh menjadi pergaulan narkoba hingga seks bebas," katanya.
Karena menurut dia, pengaruh dari lingkungan sangat besar bisa merubah pola pikir dan perilaku anak-anak remaja terutama jika sering berada di luar.
Menurut dia, jika sudah mengarah ke seks bebas atau narkoba maka akan menjadi hal yang sangat negatif yang perlu dihindari sejak dini.
Oleh karena itu, menurut Sudibyo pengawasan terhadap ruang publik yang semakin diminati para remaja sangatlah penting.
"Jangan sampai nantinya ada kasus baru semua pihak bertindak, harus dicegah sejak dini," katanya.
Sementara itu, terkait budaya nongkrong tersebut Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengatakan pihak keluarga dan sekolah harus ikut mengawasi pola hidup para remaja.
"Pihak orang tua dan pihak sekolah harus aktif dalam mengawasi budaya nongkrong-nongkrong anak remaja ini agar tidak sampai menimbulkan dampak negatif," katanya.
Dia juga meminta pihak sekolah untuk memperbanyak kegiatan ekstrakulikuler bagi para anak didik agar waktu mereka tidak banyak dihabiskan di luar.
(T.W004/A025)
Pewarta: Wuryanti Puspitasari Editor : AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026