Jakarta (ANTARA Bengkulu) - Sebagai pemain sepak bola, target pribadi yang pasti diinginkan adalah membawa negaranya menjadi juara Piala Dunia. Sebagai pebalap motor target utamanya jelas ada yaitu menjadi juara dunia Moto GP.

Begitu juga dengan pendaki gunung. Meski cabang olahraga ini terlihat ekstrem, banyak target yang diinginkan oleh seorang pendaki diantaranya bisa mencapai tujuh puncak tertinggi di dunia atau lebih dikenal sebagai seorang "Seven Summiter".

Untuk menjadi seorang "Seven Summiter" membutuhkan proses yang panjang. Proses itu dimulai dengan pendataan tujuan pendakian, persiapan fisik bagi pendaki dan yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan dari semua pihak terutama masalah pendanaan.

Jika semuanya telah siap, maka upaya untuk menjadi seorang "Seven Summiter" bisa dijalankan sesuai dengan program yang tentunya harus disiapkan dengan matang karena dalam melakukan pendakian banyak taruhannya termasuk nyawa dari pendaki.

Keingginan untuk menjadi "Seven Summiter" telah dicanangkan jauh-jauh hari oleh sekelompok pemuda yaitu Ardeshir Yaftebbi, Fadjri Al Luthfi, Martin Rimbawan, Nurhuda, Iwan Irawan dan Gina Afriani (gagal) yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia (Seven Summits) dari Wanadri.

Pemuda ini kecuali Gina telah menjalankan tahapan untuk menjadi seorang "Seven Summiter" yaitu mendaki keenam puncak tertinggi dunia dari enam benua dan tinggal menyisakan satu pendakian yaitu ke puncak tertinggi dunia yaitu Everest atau Sagarmatha (8.848 mdpl) diperbatasan Nepal dan Tibet.

Dengan meninggalkan satu pendakian maka selangkah lagi lima pemuda yaitu Ardeshir Yaftebbi, Fadjri Al Luthfi, Martin Rimbawan (gagal berangkat), Nurhuda dan Iwan Irawan selangkah lagi mendapatkan gelar "Seven Summiter". Hanya saja untuk melakukan pendakian ke puncak yang lebih kenal dengan Dahi Langit ini tidaklah mudah.

"Selangkah lagi kita menyelesaikan pendakian ke Tujuh Puncak Tertinggi di Dunia. Kami minta dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia. Inilah cara kami untuk mengharumkan nama bangsa," kata Ketua Tim Pendakian, Ardeshir Yaftebbi di sela pelepasan tim di APL Land Jakarta, Rabu.

Kelima pemuda ini sesuai dengan rencana akan berangkat ke lokasi pendakian, Kamis (29/3). Namun sebelum berangkat, kelima pendaki telah menyiapkan diri dengan baik mulai dari fisik hingga akomodasi serta logistik yang diperlukan selama pendakian.

Untuk melakukan pendakian ini, semua pendaki menyiapkan diri lebih dari dua tahun. Hal ini dilakukan karena pendakian ke Puncak Everest membutuhan perlakukan khusus. Selain tingkat kesulitan yang tinggi, pendakian ini juga membutuhkan dukungan dana yang tidak kecil

Pendakian ke puncak tertinggi dunia ini juga membutuhkan waktu yang panjang dibandingkan pendakian keenam puncak tertinggi dunia. Waktu yang digunakan mulai oleh pendaki mulai berangkat hingga kembali ke Tanah Air membutuhkan waktu 68 hari.

Keenam puncak yang telah didaki adalah Puncak Ndugu-Ndugu atau Cartenz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua, Puncak Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, Puncak Elbruz (5.642 mdpl) di Rusia, Puncak Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Puncak Denali/Mc Kinley (6.194 mdpl) di Alaska dan Puncak Vinson Massif (4.897 mdpl) di Antartika.

Sesuai namanya, Seven Summits merupakan tujuh puncak tertinggi dunia di tujuh benua. Istilah tersebut pertama kali dikenalkan oleh Richard (Dick) Daniel Bass, seorang Amerika Serikat, sekitar tahun 1980, meski selanjutnya terdapat revisi-revisi terkait dengan puncak-puncak tersebut.   

Dua rute pendakian
Pendakian ke Puncak Everest memang cukup ekslusif. Betapa tidak selain membutuhan waktu yang panjang serta dana yang tinggi dibandingkan dengan pendakian ke puncak yang lain, pendakian juga dilakukan melalui dua jalur berbeda.

Dengan melalui dua jalur maka tim yang beranggotakan lima orang ini harus dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Ardeshir Yaftebbi, Martin Rimbawan(gagal berangkat) dan Fadjri Al Luthfi dan kelompok kedua terdiri dari Nurhuda dan Iwan Irawan.

"Pembagian dua kelompok ini bukan tanpa alasan. Salah satu alasannya adalah untuk mengantisipasi cuaca buruk serta untuk memastikan keberhasilnya mencapai Puncak Everest," kata Ardeshir Yaftebbi.

Kelompok pertama yang dipimpin oleh Ardeshir Yaftebbi akan melakukan pendakian melalui melalui jalur selatan yaitu Nepal. Untuk menjalani pendakian ini akan dipandu oleh pemandu berpengalaman asal Jepang Heirro Yuki.

Mendaki lewat jalur selatan bukan tanpa berarti bebas dari hambatan. Selain iklim, medan yang berat akan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para pendaki diantaranya adalah diketinggian 5.364 mdpl yaitu "Khumbu Ice Fall" yang sangat sering terjadi longsoran es.Setiap pendaki nantinya dibekali enam tabung atau lebih banyak dibandingkan pendakian yang dilakukan orang lain.

"Makanya, dibutuhkan persiapan yang matang untuk pendakian ini. Yang jelas kami telah mempersiapkan diri sebaik mungkin," kata pria kelahiran Bireun Aceh itu.

Untuk jalur utara, Nurhuda dan Iwan Irawan akan melalui Tibet. Melalui jalur ini dinilai lebih mudah terutama diawal pendakian. Betapa tidak, para pendaki masih bisa menaiki kendaraan hingga ketinggian 5.300 mdpl. Hanya saja, para pendaki tidak langsung menuju pos terakhir tetap terlebih dahulu melakukan aklimatisasi. Pendakian ini akan dipandu oleh pemandu asal Nepal.

"Karakter suhu dan jalur utara dengan selatan (Nepal) memang hampir sama. Tapi, dijalur ini banyak rintangan yang harus dilalui terutama saat mendekati puncak," kata Nurhuda.

Menurut dia, di jalur utara terdapat dinding es vertikal sekitar 15 meter diketinggian 8.600 mdpl yang bisa disebut Fist Step, Second Step dan Third Step. Pada kondisi normal ketinggian dinding vertikal setinggi 15 meter adalah hal biasa, namun akan sangat berbeda jika berada diketinggian 8.600 mdpl.

"Fisik memang sangat menentukan. Makanya kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mensukseskan pendakian ini," kata Nurhuda dengan penuh semangat.

Sesuai dengan rencana yang ada, pendakian dari kedua jalur akan dimulai pertengan Mei nanti. Kelima pendaki yang menjalani pendakian dengan dua jalur berbeda ini diperkirakan sampai Puncak Everest antara 16-21 Mei mendatang.

Sementara itu, Ketua Umum Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia, Endriartono Sutarto mengatakan, tim saat ini dalam keadaan siap kecuali satu pendaki yaitu Martin Rimbawan yang dipastikan absen karena tidak lolos tes kesehatan sebelum pendakian.

"Banyak cara untuk mengharumkan nama bangsa seperti yang dilakukan empat pendaki ini. Semoga mereka mampu mengemban misi ini dan mampu menancapkan Bendera Merah Putih di Puncak Everest," katanya di sela pelepasan Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia.

Menurut dia, selain menuntaskan pencapaian ke tujuh puncak dunia, semua pendaki ini juga bertugas untuk melihat secara langsung kondisi alam yang saat ini mulai terdampak akibat global warming. Selanjutnya hasil dari observasi ini akan dijadikan sebuah kajian yang diharapkan mampu memberikan pengetahuan kepada khalayak.

(T.B016/A020)


Pewarta: Bayu Kuncahyo
Editor : AWI-SEO&Digital Ads

COPYRIGHT © ANTARA 2026