Adalah Mintarjo dan keluarganya yang menjadi penghuni gubuk yang terbuat dari papan berukuran 2x3 meter di tengah kebun karet itu.
Keluarga itu dipercaya untuk menjaga sekaligus memanen getah karet seluas empat hektare milik Nur Huda, warga Kota Bengkulu.
Di kalangan petani karet, pekerjaan suami istri buruh tani itu dikenal dengan sebutan tukang "takil". Mereka bertanggung jawab menyadap getah karet dan mengumpulkannya hingga siap diangkut oleh pedagang pengumpul.
"Kami sudah melakoni pekerjaan ini berpuluh tahun dan sudah sering berganti majikan," kata Mintarjo saat ditemui di kebun karet sadapannya di Desa Arang Sapat, Kecamatan Lubuksandi, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.
Hampir 70 persen penduduk Desa Arang Sapat berprofesi sebagai tukang takil. Keluarga yang berprofesi sebagai tukang takil lazim dikenali dari bentuk rumah mereka yang hampir menyerupai gubuk.
Bangunan rumah para tukang takil umumnya berukuran 3 x 4 meter terbuat dari papan. Bentuk rumah tersebut sangat kontras dengan rumah warga lainnya yang terbuat dari batu bata dan diplester serta disapu cat berwarna-warni.
Kehadiran para tukang takil di desa yang berjarak 20 kilometer dari Kota Bengkulu itu berawal dari kehadiran PTPN VII Bengkulu yang menanam komoditas karet dengan sistem Perkebunan Inti Rakyat (PIR) pada 1980-an.
Selama puluhan tahun menekuni profesinya, Mintarjo sudah mencicipi beragam harga karet. Ia pernah menyadap dan menjual getah karet seharga Rp17.000 per kilogram hingga anjlok ke harga Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram seperti yang sedang terjadi saat ini.
Menurut dia, harga getah karet saat ini adalah yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. Harga karet yang rendah tersebut sudah berlangsung selama dua tahun terakhir.
Meski harga karet jatuh, Mintarjo masih bertahan. Nur Huda, pemilik kebun karet tetap memperbolehkannya menyadap dan memperoleh 50 persen hasil penjualan karet yang disadapnya.
Sistem bagi hasil tersebut memang sudah berlaku selama bertahun-tahun antara pemilik kebun karet dan tukang takil.
"Kami berusaha bertahan karena tidak ada sumber pendapatan lain selain upah takil," ucap ayah lima anak ini, lirih.
Mintarjo masih tergolong beruntung karena tak mengalami nasib seperti Nurahman.
Tukang takil itu kehilangan sumber pendapatan karena Harmudi pemilik kebun karet seluas dua hektare yang selama ini disadapnya memilih menghentikan penyadapan karet, karena harga karet terlalu murah.
Dua tahun terakhir, Harmudi si pemilik kebun karet beralih menjadi pedagang bahan pokok dan berjualan keliling ke desa tetangga.
"Sudah dua tahun tidak kami sadap, untuk sementara berjualan sembako karena pemasukan lebih lumayan," ungkap Harmudi.
Menurut dia, karet yang didiamkan beberapa waktu justru akan lebih bagus kualitas getahnya.
Bila harga sudah membaik, ia akan kembali menyadap karet yang selama ini menjadi sumber pendapatan andalan keluarga untuk membiayai pendidikan dua orang anaknya.
"Kalau harga karet sudah mencapai Rp8.000 per kilogram saja, kami akan mulai sadap," ujarnya.
Harga rendah
Harga karet yang terpuruk dalam dua tahun belakangan seolah menjadi cobaan bagi petani karet di daerah ini.
Sebagian petani memilih meninggalkan komoditas itu dan beralih ke tanaman lain yang menurut mereka lebih menjanjikan seperti sawit dan kopi.
Haliin, petani di Desa Talang Buai, Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Mukomuko, misalnya, sudah menebang tanaman karet seluas empat hektare dan menanami kebun itu dengan komoditas sawit.
"Sudah terlalu lama harganya rendah, jadi kami putuskan mengganti jadi tanaman sawit," kata dia
Menurut dia, selain faktor harga, perbedaan usia panen antara karet dan sawit juga menjadi pertimbangan lain.
Bila menanam karet, getahnya mulai disadap pada umur tujuh tahun, sedangkan karet lokal pada umur delapan tahun.
Adapun tanaman sawit sudah mulai dipanen pada umur dua setengah tahun. Selain itu, bila karet harus disadap setiap hari, maka sawit dapat dipanen setiap pekan.
Sementara petani di Desa Talangtinggi Kecamatan Talo Kabupaten Seluma, Bengkulu tetap mempertahankan komoditas karet meski dalam tiga tahun belakangan bertahan pada harga Rp5.000 per kilogram.
"Kami tetap sabar merawat karet, karena kami yakin harganya akan membaik," imbuh Darman, petani setempat.
Menurut dia, para petani di wilayah itu belum berniat mengganti komoditas karet menjadi komoditas lain yang harganya saat ini bagus, seperti tanaman sawit.
Petani masih berharap harga karet akan membaik seperti sebelumnya yang mencapai harga Rp17 ribu per kilogram.
Pedagang pengumpul karet, Jupri mengatakan harga getah karet yang dibelinya dari petani setempat masih bertahan di harga Rp5.000 per kilogram.
"Getah karet yang dibeli dari petani rendah karena kandungan air juga sangat tinggi," katanya.
Ia mengatakan getah karet yang diterima dari petani adalah karet yang sudah dipanen selama satu minggu sehingga kadar airnya rendah.
Dengan kadar air rendah tersebut, ia bisa membeli getah karet petani hingga Rp5.500 per kilogram.
"Getah karet yang kami terima juga harus bebas dari kotoran seperti kayu dan lainnya sehingga harganya lebih tinggi dari yang diterima pengumpul lain," ujarnya.
Sedangkan pengumpul lainnya yang membeli getah hasil sadapan per hari dengan kadar air yang lebih tinggi dihargai Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan mengatakan harga karet sangat bergantung pada harga pasar global. Selain itu, kondisi perekonomian Tiongkok yang belum membaik juga membuat permintaan karet anjlok.
Indonesia kata dia, merupakan pemasok karet alam terbesar ke-2 di pasar dunia dengan total produksi karet alam sebesar 3,1 juta ton dengan kontribusi devisa senilai 4,7 miliar dolar AS pada 2014.
Bibit unggul
Di tengah keterpurukan harga tersebut, pemerintah tetap mendukung petani karet dengan menyediakan bibit karet unggul gratis.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu Ricky Gunarwan mengatakan bahwa permintaan terhadap bibit karet dari pekebun mandiri di daerah itu cukup tinggi, sehingga program pengadaan bibit unggul diprogramkan dalam tiga tahun terakhir.
Untuk menjawab kebutuhan pekebun terhadap bibit unggul, pemerintah daerah membagikan 24 ribu batang bibit karet unggul pada 20113.
Selanjutnya alokasi dana sebesar Rp1,5 miliar dari APBD tahun anggaran 2014 untuk pengadaan 148 ribu batang bibit karet. Satu hektare lahan, membutuhkan berkisar 240 batang bibit karet.
Pada 2014, pemerintah pusat melalui dana APBN 2014 mendukung pengadaan 300 ribu batang bibit karet unggul.
Sedangkan pada 2015, pemerintah daerah membagikan 67 ribu batang bibit karet unggul kepada petani dan peremajaan kebun karet seluas 500 hektare dari dukungan dana pusat.
"Bibit karet unggul ini untuk meningkatkan produksi getah dan menekan penggunaan bibit asalan," kata Ricky.
Menurut Ricky, bibit unggul tersebut sudah menghasilkan getah pada usia empat tahun, dengan syarat dirawat dengan baik.
Untuk mendapatkan bibit unggul tersebut, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi para petani, antara lain tergabung dalam kelompok tani.
Usulan permintaan bibit dari kelompok tani yang beranggotakan beberapa pekebun disampaikan ke dinas perkebunan kabupaten.
Setelah verifikasi dari tingkat kabupaten, dilanjutkan ke tingkat provinsi, selanjutnya bibit yang diminta akan disalurkan ke pekebun.
Data Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu menyebutkan luas penanaman komoditas karet di daerah itu 76 ribu hektare pada 2012.
"Luas areal penanaman karet meningkat sebesar 2,21 persen dibandingkan luas areal penanaman pada 2011," ujarnya.
Menurut Ricky, petani karet di Bengkulu hingga saat ini masih menjual getah dalam bentuk asalan, sehingga harga beli pedagang tergolong rendah.
Namun, kelemahan petani Bengkulu belum ada yang mau mengolah getah karet setengah jadi seperti petani di Jambi yaitu dibuat tipis dan kering seperti olahan pabrik.
Padahal, potensi tanaman karet di Bengkulu sangat cocok bila dibandingkan tanaman sawit karena topografinya bergelombang dan berbukit-bukit. Tanaman karet juga bisa menahan tanah agar tidak longsor disamping menjadi pohon pelindung.***3***
Pewarta: Helti Marini SipayungUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.