.....Saya sepakat wartawan harus dibekali kegiatan alam bebas, dan kalau perlu dibuat forum tersendiri.....
Jakarta (ANTARA Bengkulu) - Perlukah wartawan dibekali ilmu alam bebas atau "outdoor activity"?, itu menjadi pertanyaan yang menyeruak pascamusibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, pada awal Mei 2012.

Pertanyaan itu muncul seiring adanya sejumlah wartawan yang nyaris menjadi "survivor" atau orang yang perlu diselamatkan saat mereka berlomba-lomba ingin mendapatkan berita atau gambar yang eksklusif di atas gunung yang memiliki medan cukup ekstrem tersebut.

Hingga adanya wartawan yang tersesat itu sedikitnya telah mengganggu konsentrasi dari para relawan pencarian korban musibah pesawat tersebut.

"Saya sepakat wartawan harus dibekali kegiatan alam bebas, dan kalau perlu dibuat forum tersendiri," ujar salah seorang wartawan kepada penulis saat sama-sama meliput jatuhnya pesawat buatan Rusia  tersebut.

Memang kemampuan dasar "mountaineering", harus dikuasai oleh wartawan. Artinya tidak cukup si wartawan yang saat mudanya dahulu sekadar sering mendaki gunung karena soal dunia alam bebas itu memerlukan ketrampilan khusus.

Artinya kalau sekadar mendaki gunung bisa dilakukan oleh siapapun asalkan konsisten dengan jalur yang ada dan dibarengi dengan fisik yang prima, berbeda halnya dengan dahulunya seseorang yang suka merintis jalur dengan berpedoman pada peta dan kompas maka setidaknya dia sudah memiliki kemampuan membaca medan dan teknik survival hingga saat menghadapi medan yang ekstrem maka akan cepat beradaptasi.

Kembali kepada perlukah wartawan dibekali ilmu alam bebas, muncul pada cara Seminar "Keselamatan Jurnalis Dalam Liputan Berisiko Tinggi" yang digelar Serikat Pekerja ANTARA, di Auditorium Adhyana Wisma ANTARA, Jakarta, Selasa (12/6).

Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas), Marsekal Madya Daryatmo, menyatakan wartawan perlu dibekali ilmu kegiatan alam bebas atau "outdoor activities" hingga menjadi penunjang dalam liputan di daerah berisiko tinggi seperti musibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100 di Gunung Salak, Bogor.

"Minimal ada pelatihan seperti materi survival," kata Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas), Marsekal Madya Daryatmo, di sela-sela acara tersebut.

Hal tersebut tidak terlepas dari adanya wartawan yang saat meliput musibah Sukhoi di Gunung Salak, tersesat hingga mengganggu konsentrasi tim SAR yang disatu sisi harus mengevakuasi korban musibah tersebut namun di satu sisi lagi harus membantu wartawan yang tersesat.

Saat itu, wartawan lebih mengedepankan eksklusif berita atau gambar dengan ingin segera mencapai lokasi yang sebenarnya memiliki medan cukup ekstrem, sembari tidak dibekali kemampuan berkegiatan di alam bebas.

Kabasarnas menyebutkan dasar perlunya pemahaman tentang kegiatan itu, tidak terlepas dengan tujuan agar sebuah misi penyelamatan itu bisa berjalan dengan aman.

"Sebuah operasi itu dilakukan secara cepat dengan aman," katanya.

Ia mencontohkan seperti wartawan yang akan turun ke jurang (lokasi suatu musibah) tentunya minimal harus memiliki badan sehat.

Berbeda halnya, kata dia, dengan anggotanya di Basarnas yang sudah terlatih. "Hingga diperlukan pemahaman kepada media berupa pelatihan agar wartawan memiliki kemampuan minimal," katanya.

Setidaknya si wartawan yang diterjunkan ke medan beresiko lokasi suatu musibah, pernah mendaki gunung. Karena itu, pihaknya siap berlatih bersama dengan wartawan. "Kita bisa merencanakan itu," katanya.

Ke depannya, kata dia, bagaimana membangun kerja sama antara Basarnas dan media. "Seperti melakukan pelatihan," katanya.

Ia mengingatkan jangan sampai tujuan yang mulia itu, dengan tidak dibarengi keterampilan.

                  Pimpinan media
Sementara itu, wartawan senior yang sering meliput kegiatan alam bebas serta liputan perang, Effendy Soen, mengharapkan, ke depannya nanti pimpinan media peduli akan persiapan wartawannya yang akan meliput di daerah berisiko tinggi, seperti disiapkan alat ransel atau peralatan lainnya hingga ketika ada musibah si wartawannya tinggal diberangkatkan ke lokasi.

"Keselamatan jurnalis dalam liputan berisiko tinggi itu, tergantung kepada seberapa jurnalis yang memilih atau ditugaskan dalam liputan memiliki kesiapan," katanya.

Termasuk, ia menambahkan, memiliki tanggung jawab pimpinan medianya dalam membina, mendukung, dan mengawal keselamatan wartawannya.

Hal senada dikatakan oleh Redaktur Harian Kompas Mohammad Subhan yang menyebutkan peliputan di daerah bencana itu memerlukan kesiapan mental dan fisik.

"Kalau ragu-ragu belajar dahulu berupa pelatihan dan persiapan bencana hingga memiliki keterampilan," katanya.

Bahkan ia juga mengingatkan si wartawan yang akan ke lapangan harus tahu terlebih dahulu situasi lokasinya.

Selain itu, tim peliputan musibah itu harus benar-benar terorganisir oleh medianya. "Bagaimana dengan alat pendukungnya," katanya menjelaskan.

Di dalam tim peliputannya, kata dia, harus ada "komandan" atau pimpinannya supaya proses peliputannya berjalan dengan baik. Masalah pengaturan atau rotasi (wartawan di lapangan) harus dipikirkan juga mengingat dengan kejenuhan, katanya.

Seperti diketahui, sejumlah materi dasar berkegiatan di alam bebas yang harus dikuasai itu seperti membaca peta kompas, mengenal kontur yang ada di peta dengan medan sesungguhnya serta survival, termasuk pemahaman tentang peralatan yang akan digunakan dalam setiap peliputan di daerah berisiko tinggi. (ANT)


Pewarta: Riza Fahriza
Editor : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026