Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara memastikan kecukupan pasokan bahan pokok dan energi di pulau terluar Indonesia di Provinsi Bengkulu, yakni Pulau Enggano sepanjang dalam kondisi terisolasi transportasi.
"Nah ini kondisi stok pangan data kemarin 27 Juni 2025. Stok bahan pokok masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat Pulau Enggano," kata Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara Fitriyansyah di Bengkulu, Sabtu.
Dia menjelaskan, stok beras untuk 4.334 jiwa masyarakat Kecamatan Enggano masih tersedia sebanyak delapan ton, minyak goreng 600 kilogram.
Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara bersama pemerintah Provinsi Bengkulu pada 10 Juni 2025 juga sudah mendistribusikan bantuan pangan beras cadangan pemerintah sebanyak 16 ton yang dibagikan secara gratis.
"Jadi beras masih ada delapan ton, minyak goreng masih ada 600 kilogram, gula pasir masih ada, telur, bawang merah, bawang putih masih ada. Harga yang kami pantau dalam beberapa hari terakhir, masih relatif normal walaupun memang ada kenaikan sedikit-sedikit," katanya.
Kemudian untuk stabilisasi harga pangan pun, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara bersama pihak terkait juga menggelar pasar murah di Kecamatan Enggano.
Kemudian untuk BBM jenis Pertalite, kata Fitriyansyah, masih tersedia pasokan sekitar 28-29 ton, kemudian Biosolar masih tersedia 19 ton.
"Kemudian Kerosene atau minyak tanah Juga masih tersedia. Jadi estimasi stok BBM di Pulau Enggano diperkirakan masih bertahan sampai satu bulan ke depan," kata dia.
Pulau Enggano merupakan pulau terluar yang letaknya berada di tengah-tengah Samudra Hindia, sekitar 156 km atau 90 mil laut dari Kota Bengkulu. Untuk mencapai pulau terluar Indonesia di Bengkulu tersebut salah satunya memanfaatkan transportasi laut.
Akses ke Enggano seharusnya menggunakan kapal penyeberangan, hal itu karena kondisi jarak dan Pulau Enggano juga berada di tengah Samudra Hindia yang tentu gelombang lautnya berbahaya ketika diakses menggunakan kapal-kapal kecil nelayan.
Jika berlayar ke Pulau Enggano menggunakan kapal penyeberangan membutuhkan waktu tempuh setidaknya selama 12 jam. Namun, sejak empat bulan terakhir Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu mengalami pendangkalan alur, sehingga aktivitas keluar masuk dermaga pelabuhan menjadi terganggu.
Hal tersebut juga mengganggu aktivitas pelayaran menggunakan kapal penyeberangan ke Pulau Enggano. Akses masyarakat Enggano terkendala karena kapal penyeberangan tidak bisa keluar masuk dermaga Pelabuhan Pulau Baai dan membuat Enggano menjadi terisolasi.
