Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia guna membantu memberikan konseling bagi korban dan keluarga korban ledakan SMA 72 Jakarta sebagai upaya penanganan trauma.
"Kami juga sudah bicara dengan teman-teman dari IPK Indonesia, Ikatan Psikolog Klinis Indonesia. Mereka juga sudah siap untuk membantu teman-teman Dinkes untuk bisa memberikan konseling," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Rabu.
Dia menyebutkan konseling tidak hanya diberikan kepada korban, namun juga keluarga korban, mengingat kejadian tersebut begitu traumatis.
"Mungkin bukan hanya keluarga lho. Anak-anak yang sekolah di situ jadi takut kan. Takut masuk. Takut nanti mau shalat Jumat di situ ada yang bom lagi. Jadi memang ini tidak gampang," kata Imran.
Imran mengatakan pihaknya juga akan berdiskusi dengan pihak terkait di lapangan, serta menghubungi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) untuk membantu mengkoordinasikan upaya konseling tersebut.
Terlebih, katanya, pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HJKS), Kemenko PMK telah meluncurkan Tim Pembinaan Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM), yang salah satu tugasnya adalah melihat masalah kesehatan jiwa secara holistik dan menyelesaikannya secara kolaboratif.
Sebelumnya, insiden ledakan terjadi di lingkungan SMAN 72 Jakarta yang berlokasi di kompleks Kodamar TNI Angkatan Laut, Kelapa Gading, pada Jumat (7/11) sekitar pukul 12.15 WIB.
Berdasarkan keterangan saksi, ledakan pertama terdengar saat khotbah Jumat tengah berlangsung, disusul ledakan kedua dari arah berbeda.
