....Sebagai perusahaan BUMN, PTPN II dan PTPN IV yang memiliki tembakau dan teh harus mempertahankan tanaman itu.....
Medan (ANTARA Bengkulu) - Manajemen PT Perkebunan Nusantara IV menegaskan sudah mulai menanam kembali pohon teh setelah memutuskan membatalkan rencana konversi sekitar 1.600 hektare tanaman itu ke sawit.

"Tidak bisa sekaligus ditanam kembali karena bibit tanaman teh itu juga tidak bisa diperoleh sekaligus," kata Direktur Utama PTPN IV, Erwin Nasution, di Medan, Rabu.

Dia mengatakan, satu hektare memerlukan sekitar 14.000 pohon.

Manajemen memastikan areal di Kebun Sidamanik yang awalnya direncanakan dikonversi akan ditanami teh secara bertahap dengan bibit yang lebih unggul dari tanaman sebelumnya.

Penanaman kembali dan konsentrasi ke tanaman teh itu dilakukan bukan hanya mengikuti keinginan masyarakat dan pemerintah tetapi juga karena pertimbangan manajemen bahwa pendapatan dari teh itu akan membaik kembali sejalan dengan permintaan dan harga di pasar yang semakin membaik.

Harga ekspor teh misalnya dewasa ini naik menjadi 1,72 dolar AS per kg dari 1,66 dolar AS per kg sebelumnya dan permintaan juga tren naik.

Dengan kenaikan khususnya di harga jual, maka diharapkan, pendapatan perusahaan dari teh itu juga sesuai dengan  rencana kerja 2012.

"Untuk menyukseskan penanaman teh itu, manajemen perlu dukungan dari semua kalangan termasuk dari SPBUN (Serikat Pekerja Perkebunan ) PTPN 4 yang baru diganti kepengurusannya,"katanya.

Untuk periode 2012-2014, terpilih sebagai Ketua Umum SPBUN PTPN IV, Wispramono Budiman menggantikan Syahruddin Ali yang memasuki pensiun.

Pengamat ekonomi Sumut, Jhon Tafbu Ritonga, menyebutkan, areal tanaman tersohor di Sumut yakni teh dan tembakau semakin berkurang luasannya karena harga jual komoditas itu kurang menjanjikan dibandingkan sawit dan termasuk karet yang lagi tren mahal dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun meski kurang menjanjikan, kedua tanaman itu harus dipertahankan, karena selain merupakan salah satu tanaman khas Sumut yang dikenal sejak penjajahan Belanda juga untuk berjaga-jaga dari keanjlokan devisa kalau tiba-tiba tanaman sawit dan karet juga melemah.

"Sebagai perusahaan BUMN, PTPN II dan PTPN IV yang memiliki tembakau dan teh harus mempertahankan tanaman itu," katanya. (ANT)



Editor : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026