Sentimen dari domestik juga berasal dari utang pemerintah yang saat ini mendekati jatuh tempo yang begitu besar, sehingga mempengaruhi kinerja dari pemerintah sendiri.

Seiring keadaan itu, subsidi pemerintah terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Pertalite dinilai akan semakin besar, mengingat keputusan kenaikan BBM hanya terhadap Pertamax Turbo dan BBM non subsidi lainnya.

“Tidak menaikkan harga BBM subsidi ini membuat subsidi pemerintah semakin besar, sehingga harus mencari anggaran-anggaran dari departemen-departemen (kementerian) lain untuk membantu subsidi terhadap Pertalite. Ini yang bisa membuat defisit anggaran kembali lagi mengalami pelebaran,” ujar dia.

Ibrahim menerangkan bahwa International Monetary Fund (IMF) sudah menyampaikan agar Indonesia tak terlalu banyak memberikan subsidi terhadap barang atau komoditas tertentu untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Di Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026, tercatat bahwa harga minyak dipatok 70 dolar AS per barel dengan batas maksimal 92 dolar AS per barel. Karena kurs harga minyak mengalami lonjakan akibat gejolak geopolitik di Asia Barat, menyebabkan rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan.

Begitu pula dengan target kurs rupiah dalam APBN 2026 yang sebesar Rp16.500 per dolar AS, tetapi saat ini telah menyentuh Rp17.300 per dolar AS, sehingga membuat pemerintah memerlukan dana besar untuk menutupi berbagai kebocoran, terutama dalam hal impor minyak mentah dunia.

“Kemungkinan besar di akhir April yaitu minggu depan, kemungkinan akan tembus level Rp17.400 per dolar AS,” ungkap dia.



Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026