Jakarta (Antara) - Pemerintah Indonesia pada Rabu memberangkatkan bantuan makanan dan logistik bagi korban bencana Topan Haiyan di Filipina dengan pesawat Herkules milik TNI AU.

Hari ini diberangkatkan 3 pesawat Herkules yang mengangkut 36,6 ton berupa makanan, obat, genset, dan selimut dari Lanud Halim Perdanakusumah dengan 3 sorti penerbangan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, ketika dihubungi di Jakarta, Rabu.

Menurut Sutopo, penerbangan pertama berangkat pada pukul 06.30 WIB dengan membawa 12,54 ton bantuan, sementara sorti kedua yang membawa 12,76 ton bantuan berangkat pada pukul 07.40 WIB.

"Pengiriman bantuan dilepas oleh Sestama BNPB didampingi Deputi Penanganan Darurat BNPB serta Dan Lanud Halim Perdana Kusumah, sedangkan pengiriman tahap tiga juga sudah diberangkatkan pada pukul 10.00 WIB dengan 11 ton bantuan," kata Sutopo.

Sutopo mengatakan bantuan kemanusiaan yang terdiri dari 75 ton merupakan sumbangsih dari BNPB, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Sosial.

"Rincian bantuannya adalah 6 ribu paket makanan, seribu paket lauk pauk, 21 ribu paket tambahan gizi, 500 lembar selimut, seribu paket sandang, seribu paket perlengkapan anak, 10 unit genset dari BNPB, sementara Kemenkes memberikan 10 paket obat-obatan dan 500 paket makanan pendamping ASI," kata Sutopo.

Sementara itu Kemensos memberikan 500 dus mi instan dan seribu paket makanan beserta paket lauk pauk, ditambah seribu paket selimut.

Berdasarkan keterangan Sutopo, pemerintah Indonesia juga memberikan bantuan secara simbolis pada Selasa, yang dilakukan oleh Menkokesra Agung Laksono kepada Dubes Filipina untuk Indonesia, Mario Rosario C. Aguinaldo.

"Bantuan tersebut berjumlah 2 juta dolar AS yang terdiri dari 1 juta dolar berupa giro dan 1 juta berupa barang dan logistik yang dikirimkan dengan bantuan Kementerian Pertahanan," kata Sutopo.

Sebelumnya Kemenlu telah memastikan bahwa tidak ada ada warga Indonesia (WNI) yang menjadi korban topan Haiyan yang melanda kawasan Utara negara kepulauan Filipina pada Jumat (8/11) itu.

Meskipun Kemenlu menyebutkan bahwa jumlah WNI yang tinggal di Filipina berjumlah 6.451 orang, tetapi KBRI Manila belum menemukan WNI yang menjadi korban bencana yang diperkirakan telah menelan korban 10 ribu jiwa itu.

Pewarta:

Editor : Musriadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2013