Mukomuko (ANTARA Bengkulu) - Kelompok tani Satuan Permukiman Tujuh Desa Rawamulya, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mulai merintis usaha pembibitan belut guna memenuhi permintaan bibit dari kelompok tani lain di daerah itu.
"Kegiatan pembibitan belut itu telah berjalan, tinggal lagi jumlahnya diperbanyak agar permintaan bibit belut dari kelompok lain bisa terpenuhi," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Mukomuko, Eddy Apriyanto, di Mukomuko, Senin.
Menurut dia, sebanyak 10 kelompok tani yang mengikuti pelatihan cara budidaya belut itu, hanya satu kelompok saja yang melakukan aktivitas, sedangkan sembilan kelompok lainnya masih terkendala dengan ketersediaan bibit belut.
"Kami sudah berusaha mengunakan bibit belut yang ditangkap dan disetrum, tetapi belut tersebut tidak bisa bertahan lama," ujar dia.
Begitupula dengan bibit belut yang didatangkan dari Bandarlampung, Provinsi Lampung, tidak bisa bertahan lama setelah dibawa ke Mukomuko, mengingat bibit itu perlu adaptasi lagi, kata dia.
Dia mengemukakan, faktor ketiadaan bibit itu menjadi kendala dan hambatan dalam melakukan kegiatan budidaya belut.
Karena itu, ia berharap, kelompok tani SP-7 Desa Rawamulya bisa berhasil melakukan usaha pembibitan belut.
"Kami berharap aktivitas usaha pembibitan belut yang dilakukan oleh kelompok tersebut berhasil, sehingga bisa memenuhi kebutuhan bibit bagi kelompok lain yang tertarik melakukan budidaya belut," ujar dia lagi.
Ia menjelaskan, ada empat bak yang disiapkan oleh kelompok tani itu untuk tempat pembibitan belut, dengan jumlah induk sebanyak 40 belut, yaitu satu belut mampu menghasilkan sebanyak 300 ekor belut kecil.
"Dari setiap induk belut yang menghasilkan 300 ekor bibit belut itu, yang mati hanya berkisar 10 persen saja," kata dia.(ant)
COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2012
"Kegiatan pembibitan belut itu telah berjalan, tinggal lagi jumlahnya diperbanyak agar permintaan bibit belut dari kelompok lain bisa terpenuhi," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Mukomuko, Eddy Apriyanto, di Mukomuko, Senin.
Menurut dia, sebanyak 10 kelompok tani yang mengikuti pelatihan cara budidaya belut itu, hanya satu kelompok saja yang melakukan aktivitas, sedangkan sembilan kelompok lainnya masih terkendala dengan ketersediaan bibit belut.
"Kami sudah berusaha mengunakan bibit belut yang ditangkap dan disetrum, tetapi belut tersebut tidak bisa bertahan lama," ujar dia.
Begitupula dengan bibit belut yang didatangkan dari Bandarlampung, Provinsi Lampung, tidak bisa bertahan lama setelah dibawa ke Mukomuko, mengingat bibit itu perlu adaptasi lagi, kata dia.
Dia mengemukakan, faktor ketiadaan bibit itu menjadi kendala dan hambatan dalam melakukan kegiatan budidaya belut.
Karena itu, ia berharap, kelompok tani SP-7 Desa Rawamulya bisa berhasil melakukan usaha pembibitan belut.
"Kami berharap aktivitas usaha pembibitan belut yang dilakukan oleh kelompok tersebut berhasil, sehingga bisa memenuhi kebutuhan bibit bagi kelompok lain yang tertarik melakukan budidaya belut," ujar dia lagi.
Ia menjelaskan, ada empat bak yang disiapkan oleh kelompok tani itu untuk tempat pembibitan belut, dengan jumlah induk sebanyak 40 belut, yaitu satu belut mampu menghasilkan sebanyak 300 ekor belut kecil.
"Dari setiap induk belut yang menghasilkan 300 ekor bibit belut itu, yang mati hanya berkisar 10 persen saja," kata dia.(ant)
Editor : Ferri Aryanto
COPYRIGHT © ANTARA News Bengkulu 2012