.....Lumbung padi yang ada diisi penuh dulu baru dijual beras ke pasar, karena kalau lumbung sudah penuh tidak perlu khawatir untuk bekerja memenuhi kebutuhan sekolah anak.....
Bengkulu  (ANTARA Bengkulu) - Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu meminta petani di daerah itu mengaktifkan lumbung padi untuk mengamankan pangan keluarga.

"Lumbung padi yang ada diisi penuh dulu baru dijual beras ke pasar, karena kalau lumbung sudah penuh tidak perlu khawatir untuk bekerja memenuhi kebutuhan sekolah anak," katanya di Bengkulu, Selasa.

Menurut dia, setiap keluarga petani di Bengkulu memiliki lumbung padi yang nama lokalnya berbeda di setiap daerah.

Namun saat ini lumbung tersebut sebagian besar tidak berisi atau kosong karena sejumlah petani memilih langsung menjual hasil panennya untuk mendapatkan uang.

"Sedangkan untuk membeli beras di pasar harganya sudah mahal, jadi mulai tahun ini saya minta agar lumbung padi diisi penuh dulu, minimal untuk persediaan pangan satu tahun kemudian baru sisanya dijual," katanya menjelaskan.

Selain mengaktifkan lumbung padi keluarga, BKP juga terus meningkatkan sosialisasi penganekaragaman pangan, sehingga tidak tergantung pada beras.

"Sebab potensi pangan alternatif kita cukup banyak seperti ganyong, garut, pisang, ubi-ubian," tambahnya.

Untuk meningkatkan produksi padi di daerah itu, pemerintah daerah sudah membagikan lebih dari 3.000 unit traktor tangan kepada kelompok tani.

Pembagian alat tersebut diharapkan meningkatkan produksi beras, terutama di wilayah yang menjadi sentra produksi seperti Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Bengkulu Utara.

"Harapannya dengan pembagian traktor tangan kepada seluruh petani di 10 kabupaten dan kota maka produksi pangan akan merata," kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu Mukhlis Ibrahim beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pembagian traktor tangan tersebut selain untuk meningkatkan produksi padi sebesar 15 persen dari 600 ribu ton pada 2011 juga untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat. (KR-RNI)



Editor : Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2026