"Ketahanan keluarga memainkan peran paling strategis untuk melindungi anak-anak dari segala bentuk kejahatan," katanya di Bengkulu, Selasa.
Ia menyebutkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bengkulu terus meningkat karena salah satu pondasi perlindungan anak yakni keluarga semakin rapuh.
Dalam periode 2010 hingga 2014, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bengkulu meningkat hingga 365 persen.
"Lebih dari 60 persen pelaku kekerasan fisik dan seksual adalah orang terdekat korban," katanya.
Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak pada 2010 tercatat sebanyak 133 kasus, meningkat menjadi 442 kasus pada 2011, lalu sebanyak 384 kasus pada 2012, meningkat menjadi 655 kasus pada 2014 dan sebanyak 425 kasus pada 2014.
Diah mengatakan dari 425 kasus kekerasan pada 2015, sebanyak 147 kasus merupakan kekerasan seksual pada anak.
"Lebih mengejutkan adalah kasus kekerasan dalam relasi keluarga atau `incest` mencapai 18 kasus," katanya.
Diah berpendapat ketahanan keluarga menjadi kunci utama untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Bila ketahanan keluarga baik atau dengan kata lain keluarga harmonis, maka anak tidak akan mencari kesenangan di luar rumah.
"Kebalikannya, bila dalam keluarga sudah tidak harmonis atau sering terjadi kekerasan fisik maka peran lingkungan dan masyarakat yang diharapkan berperan," katanya.
Sementara Direktur Yayasan Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan Untuk Perempuan dan Anak (Pupa) Bengkulu Susi Handayani berpendapat anak-anak dan remaja perlu didukung untuk berani melawan kekerasan fisik dan seksual yang dialaminya.
"Salah satu upaya mencegah kekerasan anak adalah pemerataan akses kesehatan reproduksi dan perlindungan dari segala bentuk kekerasan," katanya.
Kasus kekerasan fisik dan seksual yang terus meningkat di Bengkulu, membuat Pupa merancang program "Kenali Tubuhmu" yakni kegiatan diskusi tentang fungsi reproduksi yang menyasar anak-anak dan remaja. ***4***
Pewarta: Helti Marini Sipayung: Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026