Bengkulu (ANTARA) - Korem 041/Garuda Emas (Gamas) Provinsi Bengkulu memetakan titik-titik wilayah yang bisa dijadikan lokasi evakuasi ketika terjadi bencana alam di daerah itu.
"Kita fokusnya untuk pertama ini adalah menentukan titik evakuasi atau titik pengungsian dulu. Jadi yang paling penting itu yang harus kita cek dulu. Artinya manakala (terjadi bencana) kita sudah tidak bingung lagi, dimana titik pengungsian yang sudah kita siapkan," kata Komandan Korem (Danrem) 041/Garuda Emas Brigjen TNI Jatmiko Aryanto di Bengkulu, Jumat.
Titik evakuasi, lanjutnya, berperan penting dalam proses penanganan bencana. Ketika terjadi bencana, masyarakat sudah mengetahui bergerak ke titik mana mengungsi dan hal itu tentu juga akan meminimalkan terjadinya kepanikan berlebih karena tidak tahu titik aman untuk evakuasi.
"(Tidak hanya masyarakat) mana kala amit-amitnya terjadi sesuatu, kami (dan pihak terkait) sudah tidak perlu bingung lagi dimana harus membangun titik evakuasi," katanya.
Kemudian dengan penentuan titik evakuasi dan simulasi secara berkelanjutan, kata dia, juga memastikan tugas tanggung jawab masing-masing dalam penanganan saat dan pasca-bencana.
"Mana bagian kesehatan, mana bagian yang di lapangan, mana bagian yang di dapur untuk masak, kemudian mana bagian yang kesehatan untuk menyiapkan di pengungsian tersebut untuk membantu mengobati korban," ucapnya.
Untuk kebencanaan Korem Gamas Bengkulu fokus pada sejumlah penanganan dan simulasi penanganan bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan longsor.
"Kalau di wilayah kita, yang paling kita waspadai adalah gempa bumi. Gempa bumi ini kan sudah banyak pengalaman. Nah, yang lebih sulit dari gempa bumi, kita tidak bisa memprediksi (wilayah terdampak), seperti gunung meletus atau bahaya banjir," katanya.
Bengkulu pun memiliki rekam jejak rawan dan sering terjadi gempa bumi. Kejadian terakhir yang membuat dampak signifikan yakni gempa bumi yang terjadi pada Mei 2025 lalu.
Pemerintah daerah mencatat terdapat 155 bangunan yang mengalami kerusakan, dengan rincian kerusakan berat, sedang, hingga ringan. Dari jumlah tersebut 42 rumah mengalami rusak berat dan harus dirobohkan.
"Yang lebih sulit dari gempa bumi, kita tidak bisa memprediksi, berapa dan dimana korban yang paling banyak, itu kalau gempa bumi. Nah, ini yang kita harus betul-betul siapkan, karena gempa bumi ini paling repot, karena kita tidak bisa memastikan (daerah rawan dan aman). Kalau gunung meletus, tahu kita arah laharnya ke mana, kalau bahaya banjir, tahu kita kira-kira larinya ke mana dari aliran sungai itu," kata dia.
Sementara gempa bumi, kata dia, lebih sulit diprediksi lokasi terdampaknya. Oleh karena itu bencana gempa bumi atau dengan tsunami menjadi langkah mitigasi paling prioritas.
"Makanya kita harus betul-betul menyiapkan. Kemudian baru mitigasi bencana longsor, kita ada wilayah rawan longsor seperti Bengkulu Utara dan Rejang Lebong. Kemudian banjir. Tapi yang paling penting kita berharap dan berdoa Bengkulu jauh dari bencana," ujarnya.
